Waspadai Penyebab Depresi Sedini Mungkin

Depresi merupakan penyebab utama ratusan ribu kematian akibat bunuh diri pada setiap tahun di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri setidaknya terdapat 9 juta orang atau 3,7 persen dari total populasi yang mengalami depresi. Wahh serem banget ya sobat.  Depresi adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan suasana hati yang tertekan, perasaan sedih, murung, suka menyendiri, tidak berminat dalam berbagai aktivitas, sehingga kualitas hidupnya menurun secara signifikan.. Gangguan ini tidak hanya terjadi pada masyarakat awam lho sobat. Tercatat beberapa selebritis internasional seperti Owen Wilson, Robin Williams, Winona Ryder, serta sederer selebritis lainnya pernah mengalami gangguan ini dengan berbagai macam penyebabnya.

Nah biar sobat lebih dapat melakukan antisipasi terhadap gangguan depresi ini, ada baiknya kita belajar untuk mengenali apa saja penyebab dari gangguan depresi ini. Masing-masing orang akan memiliki toleransi yang berbeda-beda untuk tiap stressor yang dialaminya. Dengan demikian akan berbeda pula stressor yang memiliki potensi terbesar memicu munculnya depresi pada masing-masing orang.

 

Beberapa faktor yang biasanya berpengaruh adalah:

  1. Pola Asuh

Individu  yang sejak kecil mendapatkan pola asuh yang kurang baik serta minim kasih sayang cenderung akan tumbuh menjadi pribadi yang rentan mengalami depresi. Salah satu contohnya adalah anak kecil yang sering dimarahi ketika berbuat salah akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang mandiri serta mudah mengalami stress ketika mencoba hal-hal baru.

  1. Trauma Masa Lalu

Setiap manusia yang hidup di dunia pasti memiliki ingatan akan pengelaman-pengalaman negatif di dalam hidupnya. Beberapa orang mungkin telah mencapai tahap trauma. Salah satu contohnya, orang yang pernah mendengarkan suara ledakan bom akan cenderung menjadi mudah mengalami panik pada saat mendengarkan suara bising ataupun suara-suara dengan volume yang cukup besar dan mengagetkan.

  1. Gaya Hidup

Orang-orang yang memiliki gaya hidup tidak sehat seperti merokok, konsumsi alkohol, tidur larut dan bangun siang hari, memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk mengalami depresi dibandingkan orang-orang yang mempraktikan gaya hidup sehat dan memeiliki waktu istirahat yang cukup. Nikotin pada rokok berperan sebagai stimulan yang memproduksi neurotransmiter pada otak. Konsekuensinya, kemampuan alami otak dalam menoleransi stress pun semakin menurun. Begitu juga dengan alcohol, selain tidak baik untuk kesehatan, alcohol juga dapat menyebabkan seseorang mengalami penurunan kemampuan untuk menghadapi stress, karena terbiasa untuk mendapatkan ketenanangan dari alcohol.

Kurangnya waktu istirahat ditambah lagi dengan jarang terpapar sinar matahari pagi mengakibatkan kurang tercukupi kadar endorfin dan vitamin D pada tubuh. Endorfin memiliki efek mengurangi rasa sakit dan memicu perasaan senang, tenang, atau kebahagiaan. Sedangkan Vitamin D dipercaya dapat membantu menstabilkan mood pada diri seseorang.

  1. Lingkungan dan Cuaca

Rumah atau Lingkungan Perumahan yang kurang memiliki pencahayaan yang cukup serta jarang terpapar vitamin D dari cahaya matahari cenderung akan menghasilkan nuansa gloomy yang berpengaruh pada lebih rentannya seseorang untuk mengalami bad mood dan berujung pada depresi.

  1. Resistensi Terhadap Stress

Individu yang tidak pernah mengalami banjir cenderung lebih cepat panik dan mengalami stress ketika tertimpa bencana banjir. Sebaliknya, masyarakat yang tinggal di daerah yang sering banjir akan cenderung lebih tenang serta tidak panik ketika secara tiba-tiba terserang banjir. Hal tersebut disebabkan karena orang-orang yang sudah sering tertimpa banjir akan mengalami resistensi terhadap jenis bencana tersebut sehingga memiliki keyakinan bahwa mereka memiliki kemampuan yang cukup untuk menghadapinya. Model resistensi terhadap bencana ataupun stressor tersebut juga berlaku pada situasi-situasi lain yang sejenis.

  1. Penyakit Kronis

Penyakit-penyakit kronis seperti jantung, kanker, dan beberapa penyakit-penyakit berat lainnya dapat menimbulkan rasa ketidakberdayaan pada diri manusia yang akhirnya menyebabkan individu lebih mudah mengalami stress-stress lain bahkan berujung pada depresi.

  1. Faktor Genetik dan Organik

Ketidakseimbangan kimiawi di otak dapat berujung pada masalah mood. Salah 1 bagian di otak yang paling berpengaruh pada regulasi emosi adalah limbic system. Di dalam system ini terdapat amygdala, hippocampus, dan hypothalamus yang berfungsi untuk menghasilkan hormone serotonin. Kurangnya hormon ini dapat mengakibatkan munculnya perasaan negatif pada diri seseorang. 

Gejala Depresi Menurut Diagnostic of Statistical Manual of Mental Disorders (DSM)

Terdapat 9 gejala yang mengindikasikan bahwa seseorang telah mengalami depresi. Apabila 5 dari 9 gejala tersebut sudah dialami oleh seseorang, dan telah berlangsung dalam 2 minggu, maka ia telah terdiagnosi mengalami depresi. 9 gejala tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Mood depresi berlangsung sepanjang hari pada hampir setiap hari sebagaimana dikeluhkan secara subjektif (merasa sedih atau hampa) atau diamati orang lain (terlihat berlinangan airmata).
  2. Kehilangan minat atau kesenangan yang nyata pada semua atau hampir semua aktifitas sepanjang hari hampir setiap hari (sebagaimana yang dirasakan atau diamati org lain thd ybs).
  3. Penurunan berat badan yang bermakna tanpa diet atau peningkatannya (perubahan berat badan lebih dari 5% sebulannya).
  4. Kesulitan tidur atau Terlalu Mudah Tidur pada hampir setiap harinya.
  5. Agitasi atau retardasi psikomotor pada hampir tiap hari (yang dapat diamati orang lain bukan hanya perasaan subjektif restlessness atau lamban).
  6. Fatigue atau kehilangan tenaga pada hampir setiap harinya.
  7. Perasaan tidak berharga atau rasa bersalah berlebihan atau inappropriate (yang mungkin sebagai waham) pada hampir setiap harinya.(bukan hanya menyesali atau merasa berbeban dgn keadaanya).
  8. Kehilangan kemampuan berpikir atau berkonsentrasi atau membuat keputusan pada hampir setiap harinya (sebagaimana yang dirasakan atau diamati org lain thd ybs).
  9. Pikiran berulang tentang kematian (bukan hanya perasaan takut mati), bunuh diri tanpa perencanaan atau usaha bunuh diri atau adanya rencana spesifik mengakhiri hidup.

Strategi penanganan Depresi secara efektif biasanya dilakukan secara holistic dengan melibatkan terapi psikologis (terapi pada perilaku, pikiran, perasaan yang dapat dilakukan oleh psikolog dan konselor), farmakologis (obat-obatan yang diberikan oleh psikiater), serta social support group. Lama waktu yang dibutuhkan biasanya dalam hitungan bulan bahkan hingga bertahun-tahun. Well, memang lebih baik mencegah daripada mengobati.

Sumber: maxmanroe.com, Tempo.com, detik.com, DSM IV TR

Gambar: trend-guru.com