Tingkilan, Musik Tradisional Ibukota Baru

Jakarta – Pindahnya ibukota Indonesia dari Jakarta ke sekitar Kutai Kertanegara dan Penajam Paser Utara, di Kalimantan Timur, menjadi perbincangan hangat di masyarakat Indonesia. Banyak perdebatan mengenai masalah politik, ekonomi, dan lingkungan dari pemindahan ibukota. Akan tetapi, tidak banyak yang menyadari kalau pemindahan ibukota dari Jawa ke Kalimantan membuka mata Indonesia mengenai budaya Kalimantan.

Bagaimana musik asli ibukota baru? Jika Jakarta punya musik keroncong Tugu, Kutai punya Tingkilan. Tingkilan berasa dari Bahasa Kutai yaitu Tingkil yang berarti menyindir. Lirik pada musik ini memang berbentuk pantun bermuatan kritik.

Dalam Satyawaiti (2017), ada tafsiran lain dari kata Tingkil. Menurut Satyawati, Tingkil berarti bersahut-sahutan. Hal ini merujuk pada  kebiasaan masyarakat Kutai untuk saling berbalas pantun setelah pulang kerja atau dalam waktu senggang. Argumen manapun yang benar, kedua argumen menggambarkan peran Tingkil dalam merajut hubungan antar individu di masyarakat Kutai.

Kebiasaan berbalas pantun ini biasanya melibatkan sepasang pria dan wanita diiringi alunan musik. Musik ini dimainkan untuk mengiringi kegiatan sahut-menyahut ini diiringi alat musik tradisonal seperti gambus, ketipung, dan gendang. Akan tetapi bukan berarti musik ini menutup diri pada musik modern atau sentuhan musik asing. Tidak jarang ada yang menggunakan alat musik modern atau asing seperti gitar, bass, biola, dan rebana untuk memainkan musik ini.

Apakah perpindahan dari Jakarta ke Kutai dapat menjadi batu locatan bagi Tingkil tidak hanya untuk dikenal di kalangan masyarakat non-Kalimantan, tetapi juga dunia? Jakarta punya sentra kebudayaan Betawi di Setu Babakan, apakah nanti akan ada usaha preservasi budaya Kutai? Yang jelas, perpindahan ibukota membuka kesempatan yang positif bagi seni masyarakat Kalimantan untuk dikenal publik luar. Tinggal masalah apakah Pemerintah Pusat mau memfasilitasi kesenian asli ibukota baru atau tidak.