• A PHP Error was encountered

    Severity: Notice

    Message: Undefined variable: rss_hide

    Filename: partials/_social_media_links.php

    Line Number: 45

    Backtrace:

    File: /home/isnaenirikki/public_html/application/views/partials/_social_media_links.php
    Line: 45
    Function: _error_handler

    File: /home/isnaenirikki/public_html/application/views/partials/_header.php
    Line: 770
    Function: view

    File: /home/isnaenirikki/public_html/application/controllers/Home.php
    Line: 164
    Function: view

    File: /home/isnaenirikki/public_html/index.php
    Line: 315
    Function: require_once

"Sarjana Nganggur" : Sebuah Fenomena Baru atau Ada yang Salah dengan Pendidikannya?

 

Education is the most powerful weapon which you can use to change the world" Nelson Mandela: Presiden Afrika Selatan (1994-1999).

Dengan quote itu, Nelson Mandela mampu memberikan perubahan besar di negerinya, tentu bukan isapan jempol belaka. Hal ini tidak sejalan dengan kondisi Indonesia saat ini, biaya pendidikan semakin mencekik dan jumlah sarjana berhamburan namun pengangguran kian mencuat drastis dari tahun ke tahun. Apa yang salah dengan tanah Ibu Pertiwi ini? Yang konon mendapatkan pujian dari bangsa dengan aneka ragam budaya luar biasa dan SDA tiada tara?

 

(Sumber: https://www.pikiran-rakyat.com/pendidikan/2018/03/26/630000-orang-sarjana-masih-menganggur-421873)

 

630.000 sarjana pengangguran dari total 7 juta pengangguran di Indonesia atau sekitar 8,8% berdasarkan laporan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tahun 2018. Jumlah ini bukanlah jumlah yang kecil belum lagi di tambah yang bukan sarjana. Padahal sarjana telah digadang-gadang sebagai generasi intelektual yang akan membawa negeri ini di masa depan. Laporan seputar sarjana yang menganggur bukan lagi hal baru namun masih menjadi momok di negeri ini. Laporan serupa dari BPS kota Surabaya, yang juga disebut-sebut sebagai kota industri malah melaporkan bahwa 5.780 sarjana di tahun 2017 menganggur. Belum lagi ditambah daerah lainnya, jumlah ini tentu sangat mengerikan bagi masyarakat. Mengapa fenomena ini terus terjadi? Padahal pihak pemerintah sudah banyak mengeluarkan program yang ekspektasinya luar biasa, seperti; Indonesia menuju revolusi industri 4.0, Indonesia emas 2045, penerapan SDG’s (Sustainable Development Goals), berbagai jenis beasiswa dan masih banyak lagi program-program lain diberbagai bidang yang ekspektasinya mengurangi angka pengangguran.

 

(Sumber: http://kopertis3.or.id/v5/wp-content/uploads/Buku-Statistik-Pendidikan-Tinggi-2017.pdf)

Jumlah peminat perguruan tinggi kian bertambah pesat sebanding dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang juga berbanding lurus dengan jumlah pengangguran jenjang sarjana. Apa yang salah dengan pendidikan perguruan tinggi di negeri ini? Bukan kah para mahasiswa dianggap sebagai kaum intelektual, yang selalu berbangga diri dengan status mahasiswa mampu menumbangkan “orde lama”, mahasiswa adalah agent of change dan lain sebagainya. Dalam berbagai kesempatan acara motivasi keorganisasian ini adalah muatan lumrah bagi para calon sarjana. Tentunya doktrin ini sudah melekat pekat dan mengakar dalam alam bawah sadar para sarjana masa kini. Apa yang salah atau ada yang salah dan dibiarkan?

(Sumber:https://www.youthmanual.com/post/terkini/berita/10-kutipan-tokoh-terkenal-tentang-pendidikan-yang-bikin-kita-makin-semangat-belajar)

 

Sistem pendidikan di Indonesia saat ini adalah sistem pengajaran bukan lagi pendidikan, tentunya hal ini menjadi masalah pokok dari sistem pendidikan itu sendiri. Mengutip Dr.Martin Luther King, Jr. (Pahlawan perdamaian:1968), “The fucntion of education is to teach one to think intensively and to think critically. Intellegence plus character that is the goal of true education". Kini hal ini sudah tidak lagi terlihat di Indonesia, malah yang dipentingkan dan diperebutkan hanyalah prestasi tertulis bukan karakter. Hal ini terbukti banyaknya kasus korupsi dan kejadian asusila di kalangan kaum intelektual. Karena sistem pendidikan saat ini hanya mengajar pikiran bukan mendidik hati dari peserta didik sehingga kinerja akal tidak maksimal. Dengan jumlah signifikan sarjana sebagai pengangguran dan jumlah mahasiswa baru terus bertambah namun ada berita mengejutkan, Indonesia kekurangan sarjana teknik atau engineer. Terbukti dengan beberapa headline media massa, salah satunya adalah Kompas.com dengan judul "Indonesia Butuh Banyak Sarjana Teknik!" pada 23 April 2015 dan dari Tribunnews.com dengan judul “Indonesia Kekurangan Tenaga Ahli di Bidang Teknologi dan Engineering”  pada 29 Juni 2018. Tentu di sini terjadi masalah klasik “miss-komunikasi” antara kuota tiap jurusan di perguruan tinggi dengan pihak industri, atau karena kurangnya pengetahuan seputar informasi yang tersebar di kalangan masyarakat.

 

(Sumber: https://www.youthmanual.com/post/terkini/berita/10-kutipan-tokoh-terkenal-tentang-pendidikan-yang-bikin-kita-makin-semangat-belajar)

 

Pendidikan yang keras di era millenial adalah solusi mutlak bagi para calon sarjana, untuk benar-benar menggapai Indonesia sejahtera yang merata, sesuai dasar negara (Pancasila) sila kelima. Saling mengingatkan dan menegur inilah peran pemuda yang sadar terlebih dahulu, mengedukasi rekan seperjuangan melalui internet terutama media sosial. Dengan membagikan konten-konten positif penting yang tidak disadari, misalnya saja cara bersikap seorang pemuda/i, cara menghargai yang lebih tua, metode menghilangkan rasa galau dan malas, poster-poster kata bijak terutama tentang perilaku dan pola pikir, dan juga video edukatif pembahasan permasalahan kekinian yang dianggap sepele, serta berbagai konten edukasi lainnya yang bertujuan mendoktrin secara halus untuk membangun karakter para sarjana. Jadi gerakan sadar bermedia internet secara tepat untuk membenahi negeri adalah keputusan jitu di era millenial. Dengan sedikit berkaca pada lingkungan sekitar, para mahasiswa masa kini tidak lagi bergandengan tangan dengan sahabat, namun bergandengan tangan dengan gadget. Edukasi melalui internet terutama media sosial adalah cara paling efesien. Bukan hanya mampu membangun pola pikir pada mahasiswa namun juga mampu menyebarkan informasi seputar masa depan sarjana kepada seluruh elemen masyarakat. Sehingga, para orangtua memiliki wawasan untuk menguliahkan anak-anaknya, ataupun anak itu sendiri dengan cerdas mampu memutuskan masa depannya setelah menjadi sarjana.

 

Sumber:

https://edukasi.kompas.com/read/2015/04/23/11461401/Indonesia.Butuh.Banyak.Sarjana.Teknik.
http://www.tribunnews.com/nasional/2018/06/29/indonesia-kekurangan-tenaga-ahli-di-bidang-teknologi-dan-engineering
http://kopertis3.or.id/v5/wp-content/uploads/Buku-Statistik-Pendidikan-Tinggi-2017.pdf
https://news.okezone.com/read/2018/06/26/65/1914304/ratusan-ribu-lulusan-perguruan-tinggi-per-tahun-menganggur
https://www.pikiran-rakyat.com/pendidikan/2018/03/26/630000-orang-sarjana-masih-menganggur-421873
https://www.pressreader.com/indonesia/jawa-pos/20180208/282449939477311
https://www.youthmanual.com/post/terkini/berita/10-kutipan-tokoh-terkenal-tentang-pendidikan-yang-bikin-kita-makin-semangat-belajar

Kamu suka dengan konten akutahu.com? Berikan dua jempol sebagai tanda kamu menyukai konten ini.

Beritahu cuan reaksi kamu setelah membaca konten ini.

like
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0