• A PHP Error was encountered

    Severity: Notice

    Message: Undefined variable: rss_hide

    Filename: partials/_social_media_links.php

    Line Number: 45

    Backtrace:

    File: /home/isnaenirikki/public_html/application/views/partials/_social_media_links.php
    Line: 45
    Function: _error_handler

    File: /home/isnaenirikki/public_html/application/views/partials/_header.php
    Line: 770
    Function: view

    File: /home/isnaenirikki/public_html/application/controllers/Home.php
    Line: 168
    Function: view

    File: /home/isnaenirikki/public_html/index.php
    Line: 315
    Function: require_once

Reggae: Musik Filosofis dari Jamaika

Jakarta – Pertama kali mendengar kata reggae, kita akan membayangkan Jamaika, rambut gimbal, Bob Marley atau ketiganya. Memang reggae berasal dari Jamaika, awalnya dimainkan oleh kaum Rastafara yang berambut gimbal, dan salah satu penyanyi terkenal dari genre ini adalah Bob Marley. Sedikit yang tahu kalau ini hanyalah symbol-simbol yang memiliki makna yang lebih dalam.

Ditarik dari akar sejarahnya, musik reggae mulai dikenal di Jamaika pada tahun 1960-an. Genre ini merupakan hasil persilangan dari genre-genre lain yang sudah ada terlebih dahulu seperti Ska, R&B, Jazz, Rocksteady, dan Mento, musik tradisional Jamaika. Sekalipun istilah reggae baru diperkenalkan pada tahun 1968 oleh Toots Hibbert lewat lagunya, Do the Reggay, Hibbert sendiri bukanlah penemu music reggae. Banyak ahli berpendapat kalau lagu reggae pertama adalah Nanny’s Goat dari Larry & Alvin pada awal tahun 1968. Akan tetapi ahli-ahli lain berpendapat kalau formulasi genre ini telah tercipta pada tahun 1958 setelah penyanyi Jazz Jamaika, Ernest Ranglin bereksperimen dengan genre Jazz dan menggabungkannya dengan Ska sehingga tercipta prototipe reggae pertama. Terlepas dari kapan genre ini berawal, reggae telah mengubah peta dunia permusikan Karibia.

Lirik-lirik pada lagu reggae mengandung kritik sosial terutama mengenai kelompok diaspora Afrika di Jamaika. Reggae sangat dipengaruhi oleh gerakan Rastafari, gerakan spiritual yang terkenal di Jamaika pada medio 1920-an. Gerakan ini didirikan oleh Marcus Garvey pada tahun 1930 sebagai respons atas naik takhtanya Haile Selasie, Raja Ethiopia. Menurut Garvey orang kulit hitam adalah ras pilihan Tuhan yang ditekan oleh perbudakan sejak waktu yang lama dan Haile Selasie adalah perwujudan Tuhan di dunia. Garvey percaya orang kulit hitam harus bangkit dan kembali ke benua asal mereka, Afrika. Oleh karena itu, lirik reggae banyak berkutat pada perjuangan orang kulit hitam dan kolonialisasi.

Reggae di Indonesia

Di Indonesia, music reggae bukanlah musik yang asing, sekalipun tidak termasuk pada spektrum musik pop. Lagu “Welcome to My Paradise” dari Steven Jam (Dahulu Steven & The Coconut Treez) sempat tenar diputar di radio-radio di Indonesia. Dimulai sejak 1986 saat band reggae pertama di Indonesia, Black Company memulai debutnya pada belantika musik Indonesia, reggae terus berkembang menghasilkan animo yang besar di masyarakat. Pentas-pentas seni sekolah banyak mengundang musisi reggae ternama di Indonesia seperti Ras Muhamad, Gangstarasta, dan Tony Q Rastafara.

Berbeda dengan musisi reggae di negara lain, ideologi Rastafari tidak terlalu mengena pada skena reggae Indonesia. Ada musisi reggae yang memfusikan kepercayaan agamanya dengan filosofi Rastafari seperti Ras Muhamad tetapi lebih banyak penikmat reggae di Indonesia yang tidak tahu apa itu Rastafari. Menurut Ras Muhamad, salah satu tanda bahwa pemahaman ajaran Rastafari tidak diajarkan pada komunitas reggae di Indonesia adalah tidak banyak orang mengetahui siapa Haile Selassie atau Marcus Garvey. Musisi reggae terkenal seperti Tony Q Rastafara pun mengaku tidak menganut aliran Rastafari sekalipun ia menggunakan nama panggung yang berbau aliran tersebut.