Netizen Fair 2019, Mari Gunakan Internet Lebih Sehat

Jakarta - Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi merupakan gerakan sinergis yang mendorong pengguna internet atau netizen di Indonesia dalam menggunakan internet secara lebih bijak dan bertanggung jawab. Gerakan ini diinisiasi oleh beberapa kementerian, lembaga, komunitas/organisasi, media dan juga private sector.

Gerakan ini didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo). Menkominfo Rudiantara memberi tanggapan atas terbentuknya gerakan Siberkreasi mengatakan, “Hidup di era digital memudahkan kita untuk mendapatkan, berbagi, hingga mengolah berbagai informasi. Meskipun memudahkan kita dalam berinteraksi satu sama lain akibat mudahnya arus informasi di era digital,membuat kita juga harus menghadapi berbagai tantangan yang  muncul di era ini."

"Seperti rentannya penyebaran konten negatif melalui internet berupa hoax, cyberbullying, dan online radicalism. Siberkreasi sebagai gerakan nasional berupaya untuk menanggulangi hal-hal tersebut dengan melakukan literasi digital. Bersama siberkreasi kita mendorong netizen Indonesia untuk aktif berpartisipasi dalam menyebarkan konten positif secara konsisten di dunia maya. Sehingga dengan memanfaatkan perkembangan teknologi ini kita bisa berkembang dan produktif di dunia digital," tambahnya.

Setelah dua tahun sejak diluncurkan pada 27-29 Oktober 2017 di Jakarta, siberkreasi telah berhasil mewadahi 102 lembaga/komunitas dari berbagai unsur, menjangkau 442 lokasi dengan lebih dari
185.000 peserta aktif yang dikemas dalam program-program sinergi, dan menyebarluaskan 73 buku seri literasi digital yang telah diunduh sebanyak 180.000 kali.

 

Program Unik

Siberkreasi memiliki beberapa program unggulan, antara lain, School of Influencer, Pandu Digital, Kreator Nongkrong, dan literasidigital.id. Dengan literasidigital.id, masyarakat dapat mendapatkan pengetahuan seputar pendidikan digital, ekonomi digital, cybercrime, dan lain lain dalam bentuk buku, video, dan infografis yang dapat diunduh secara gratis.

Menkominfo Rudiantara mendukung langkah siberkreasi menyebarkan literasi digital, “Berbagai macam informasi bisa kita dapatkan di media sosial, baik yang positif maupun yang negatif. Untuk itu dibutuhkan literasi digital agar masyarakat luas mampu memilih dan memilah konten serta memerangi info hoax, hate speech dan berita negatif lainnya. Ponsel dan internet itu ibarat pisau bermata dua, yang harus ditingkatkan adalah kemampuan kita untuk menggunakan internet secara baik. Sehingga manfaatnya lebih banyak dan mudharatnya ditekan. Keberadaan Siberkreasi membantu penyebaran literasi digital kepada masyarakat luas di Indonesia.”

Program Pandu Digital merupakan program bagi masyarakat umum khususnya pada hal community empowerment berbasis komunitas, collaborative engagement dengan menyebarluaskan pengetahuan etika digital, dan memperkuat ekonomi digital dengan roadmap e-commerce Indonesia. Sedangkan School of Influencer berfokus pada pengembangan konten positif di Internet dengan cara mengajak anak-anak muda Indonesia untuk memproduksi konten kreatif seperti video, gambar, artikel, blog atau vlog yang positif di Internet. Lalu Kreator Nongkrong adalah komunitas bentukkan Siberkreasi yang mewadahi para influencer/konten kreator untuk saling bersinergi dan tetap produktif dalam memproduksi dan menyebarkan konten positif.

Selain empat program di atas, salah satu program lain Siberkreasi adalah Siberkreasi Netizen Fair 2019 yang diadakan setiap tahun. Kali ini, Siberkreasi Netizen Fair 2019 akan berlangsung di The Kasablanka Hall, Kota Kasablanka, Jakarta, 5 Oktober 2019. Kegiatan ini merupakan gelaran ketiga setelah dua tahun sebelumnya Siberkreasi Netizen Fair sukses digelar.

Dengan mengangkat tema “Creator Generation” pada tahun ini, Siberkreasi Netizen Fair 2019 hadir untuk mengajak anak bangsa khususnya generasi muda lebih bebas menuangkan dalam berekspresi serta mendorong anak muda agar mampu memanfaatkan teknologi dengan memproduksi konten positif yang bisa berguna bagi banyak orang. Hal ini dikarenakan kurang fasilitas untuk mengembangkan kreativitas baik di sekolah maupun di rumah. Akibatnya, akan melahirkan mentalitas “sumbu pendek” saat melihat berita di media sosial.