Menjadi Korban Bom, Febby Belajar Memaafkan Sesama

Pada hakikatnya setiap manusia diciptakan Tuhan untuk saling menyayangi dan saling mengasihi. Setiap manusia diciptakan untuk memberikan makna dan membentuk suatu kesatuan satu sama lain tanpa adanya batasan berupa keyakinan, suku, bangsa, dan ras yang berbeda. Kerukunan umat beragama, toleransi, serta rasa aman dan damai merupakan hal yang didamba-dambakan oleh setiap manusia terutama masyarakat Indonesia. Kian memasuki era reformasi dunia dihadapkan dengan permasalahan yang mengkaitkan dan menyudutkan suatu agama dan keyakinan tertentu. Maka mulai muncul lah istilah “Terorisme” yang berakar dari radikal anarkis.

Terorisme berasal dari dua suku kata; teror dan isme, yang berarti menciptakan ketakutan luar biasa, kejahatan luar biasa (extra ordinary crime), kejahatan kemanusian (against humanity), kejahatan lintas budaya (borderless) dan menjadikannya sebagai paham selevel dengan keyakinan. Ada sekitar 1000 orang telah dan sedang ditangani pihak berwajib, ada yang dipenjara seumur hidup, dieksekusi mati, ada juga yang divonis 20 tahun mendekam didalam jeruji besi, tetapi tidak sedikit juga pelaku teroris  mendapatkan remisi atau pengurangan masa tahanan.

Salah satu bentuk dari terorisme berupa aksi bom bunuh diri yang beberapa kali terjadi di Indonesia. Akibat yang dihasilkan dari bom bunuh diri itu, menimbulkan korban jiwa, harta benda serta bangunan rusak parah. Seperti yang terjadi pada tanggal 5 Agustus 2003 lalu di Hotel JW Marriot, Jakarta. Menewaskan 14 orang dan 156 orang luka-luka, salah satunya yaitu Febby Firmansyah Isran (41 tahun) dengan luka bakar hingga 45% yang membuat dirinya harus menjalani perawatan selama kurang lebih empat bulan diruang isolasi. Ia sempat mengalami kondisi tubuhnya dibalut perban layaknya mumi.

Kejadian nahas ini diceritakan Febby ketika menghadiri acara Boardgame For Peace 2.0 Palembang, baru-baru ini. Saat kejadian bom bunuh diri, ia hendak menyebarkan undangan pernikahan yang akan dilaksanakan seminggu lagi tepatnya tanggal 16 Agustus 2003. Perkiraan bom itu meledak  pada pukul 12.40 WIB, ketika dirinya hendak makan siang pada saat itu. Jarak antara kantornya dan Hotel JW Marriot ini tidak terlalu jauh, sekitaran 7 hingga 10 meter.

Akibat kejadian itu, menyebabkan tubuh Febby juga terkena percikan ledakan bom. Saat bom itu meledak dan mengenai tubuhnya, Febby masih sadar dan sempat memadamkan api yang berasal dari bom  yang berada pada tangannya sekaligus melepaskan kulit yang mengelupas akibat terkena percikaan bom itu.

Akibat luka yang dialaminya dia merasa terpuruk, dendam dan marah terhadap pelaku tindakan teroris. Rupanya perasaan itu semakin membuat dirinya lemah dan memburuk. Namun sang calon istrilah yang selalu memberikan kekuatan untuk meyakini dirinya agar memaafkan para pelaku teror itu.

Wanita yang mendampingi Febby, dengan sabar merawat dirinya dan tetap ingin menikah. Meski kondisi Febby tak seperti dulu. Akhirnya Febby dan istrinya menikah di rumah sakit ketika dirinya masih dirawat pasca ledakan bom itu.

Seiring berjalannya waktu, Febby dapat memafkan pelaku teror dan mengikhlaskan sebagian tubuhnya penuh dengan luka bakar akibat percikan bom. Dengan memafkan pelaku ledakan bom, hal itu membuat proses penyembuhannya semakin membaik dan dirinya lebih tenang. Bahkan saat ini Febby aktif mengkampanyekan perdamaian untuk pencegahan tindakan kekerasan dan terorisme dengan Peace Generation Indonesia. Dia juga kini bersahabat dengan mantan teroris yaitu Ali Fauzi, adik kandung Amrozi (yang sudah dieksekusi mati) dan Ali Imron yang terpidana penjara seumur hidup dalam kasus Bom Bali 2002. Dengan memafkan akan membuka pintu kasih sayang dan perdamaian, karena Kebencian dan terorisme tidak akan menghasilkan apapun kecuali luka.

Sumber : Febby Firmansyah Isran (Boardgame For Peace 2.0 Palembang)

Sumber Main Image : Boardgame For Peace

Sumber Additional Image : Anissa leha, (diambil ketika Febby Firmansyah Isran menceritakan kronologi kejadiannya)