Maluku dan Rempah-Rempah

Maluku dan Rempah-Rempah
Masih ingat materi pelajaran Sejarah yang menginfokan bahwa kedatangan bangsa lain ke negeri ini di masa lalu adalah untuk mencari rempah-rempah? Jika ya, berarti ingatan anda tidak salah. Salah satu tujuan utama mereka ke Nusantara berdasarkan fakta sejarah memang untuk mencari rempah-rempah. Selain itu, ingatkah anda daerah mana yang menjadi tujuan utama bangsa lain mencari rempah-rempah? Jawabannya adalah, Maluku. Ya, sejak dulu Maluku sudah dikenal sebagai daerah penghasil rempah-rempah. Bahkan, saking berharganya Maluku, salah satu pulau penghasil rempah-rempah, yaitu Pulau Banda yang berada di bagian selatan Ambon, sempat hendak ditukarkan dengan Pulau Manhattan di Amerika Serikat.

Jika menilik lebih jauh ke belakang, Pada abad ke-16, Portugis datang ke Indonesia melalui penjelajahan samudera untuk mencari rempah-rempah. Rempah-rempah merupakan komoditas primadona di masa itu. Rempah-rempah menjadi bahan dasar di berbagai bidang, terutama makanan dan kesehatan. Tidak heran jika banyak negara, terutama negara barat seperti Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris yang melakukan pelayaran bersama armada maritimnya untuk mengelilingi dunia mencari rempah-rempah tersebut.

Beberapa contoh rempah-rempah yang menjadi buruan masyarakat internasional adalah pala, cengkeh dan kayu putih. Pala menjadi salah satu bumbu rahasia berbagai masakan Eropa, sementara kayu putih menjadi salah satu bahan dasar kesehatan melalui minyak yang disarikannya. Kejayaan Maluku sebagai penghasil rempah-rempah khususnya dua komoditas tersebut tidak terbantahkan dalam sejarah. Lalu bagaimana saat ini? Masih kah Maluku berjaya dalam memproduksi rempah-rempah?

Secara statistik, rempah-rempah masih menjadi komoditas utama di kepulauan ini. Namun demikian, rempah-rempah kini sudah tidak lagi menjadi primadona. Melalui media, salah seorang petani rempah di Maluku sempat bercerita bahwa pada tahun 1980, keadaan pertanian rempah di sana mengalami titik terendah. Keadaan mulai kembali membaik setelah 20 tahun, tepatnya di tahun 2000an. Salah satu faktor pemicunya adalah karena kurangnya minat generasi muda yang ingin menjadi petani. Mayoritas pemuda di sana lebih memilih profesi atau jenis pekerjaan lain yang memberikan gaji lebih tinggi. Selain itu, teknik pertanian yang belum menggunakan teknologi tinggi membuat produksi rempah Maluku saat ini juga tidak sebaik di masa kejayaannya.

Dalam menyikapi hal tersebut, pemerintah sejak tahun 2017 sudah mencoba menghidupkan kembali Maluku sebagai penghasil rempah. Diversifikasi lahan menjadi salah satu program utama untuk memaksimalkan lahan pertanian. Selain itu, ekstensifikasi lahan juga semakin giat dilakukan. Saat ini program tersebut masih terus berjalan meski hasilnya belum bisa dilihat dalam waktu singkat.

Kamu suka dengan konten akutahu.com? Berikan dua jempol sebagai tanda kamu menyukai konten ini.

Beritahu cuan reaksi kamu setelah membaca konten ini.

like
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
1