Kesenian Jaranan Pogogan Asli Kabupaten Nganjuk Kembali Unjuk Gigi

Kesenian Jaranan Pogogan Asli Kabupaten Nganjuk Kembali Unjuk Gigi

Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya, salah satunya adalah Jaranan Pogogan. Jaranan Pogogan merupakan kesenian asli dari Kabupaten Nganjuk yang merupakan kreasi dari kesenian Ponorogo. Jaranan Pogogan dikenal masyarakat sebagai jaranan wayang orang karena dalam pementasannya ada lakon (jalan cerita) serta setiap pemain dirias seperti tokoh-tokoh wayang orang. Hal yang paling menonjol pada kesenian ini adalah adanya tokoh pogog (ndagel). Pogog dalam bahasa Jawa berarti terpotong (tugel), karena dalam pementasan selalu berbuat usil serta riasan yang tidak pada umumnya sehingga mengundang gelak tawa dari penonton. Pogogan terakhir kali dipertontonkan pada tahun 1970-an dan kini mulai dilestarikan kembali oleh Eko Kadiyono melalui tulisan dan arsipnya.

Dia menyadari kesenian Jaranan Pogogan telah mati suri atau bahkan punah sejak puluhan tahun lalu. Seingatnya, seni tari asli Kabupaten Nganjuk itu kali terakhir ditanggap masyarakat sekitar tahun 1970-an. Daerah yang pertama kali mengenal Pogogan adalah Betet dan Barik, Kecamatan Ngronggot pada era kemerdekaan. Ayah dari Eko dan Eko sendiri merupakan pemeran kesenian Jaranan Pogogan sehingga Ia lebih paham tentang perkembangan kesenian ini. Pada kurun waktu 1960-1970, kesenian Jaranan Pogogan mengalami masa kejayaan. Namun, memasuki tahun 1980, jaranan ini mulai meredup seiring perkembangan media hiburan. Dengan berkembangnya televisi dan ludruk, masyarakat mulai jarang menanggap Pogogan dan pada akhirnya kesenian itu kini tinggal sebuah cerita.

Eko Kadiyono, guru SMPN 1 Tanjunganom, mengaku bahwa mengajarkan tarian tradisional untuk anak-anak zaman sekarang terasa lebih sulit. “Saya merasa ada ruh yang hilang ketika anak-anak menari,” beber pria asli Dusun Jimbir ini. Namun tanpa patah semangat Eko melalukan beberapa upaya untuk melestarikan kesenian asli Nganjuk ini. Upaya yang dilakukannya antara lain melatih menari para siswa SMP, mengumpulkan serpihan sejarah kesenian Pogogan, membuat sinopsis tarian, melakukan wawancara kepada pelaku jaranan, serta bercita-cita mendirikan sanggar di rumahnya. Sebagai pewaris kesenian Pogog dari sang ayah, bapak lima anak ini ingin Jaranan Pogogan hidup lagi dan dikenal masyarakat luas. “Saya ingin mengenalkan kembali ke generasi sekarang,” pungkasnya.

 

Sumber: jurnalmahasiswa.unesa.ac.id, radarkediri.jawapos.com