Hasil Debat 2019, Ini Pemahaman Masalah Ekonomi di Mata Paslon

Jakarta - Menyusul selesainya Debat Final Pilpres yang diselenggarakan di Hotel Sultan Jakarta pada Sabtu (13/04/2019), kedua timses calon presiden dan wakil presiden menjawab pertanyaan wartawan pada sebuah jumpa pers.

Tim TKN Jokowi diwakili oleh Arief Budimanta, Nita Dewi, dan M. Luthfi. Sedangkan tim BPN Prabowo diwakili oleh Erwin Aksa, Hariyadi Mahardhika dan Rizal Ramli. 

Arief menilai Jokowi telah meluruskan sistem ekonomi Indonesia ke arah Pancasila lewat pembangunan yang merata dan Indonesiasentris

"Ketika dibilamg Indonesia salah Justru pak Jokowi meluruskannya," tegas Arief.

Sementara itu Nita sebagai motor dari perempuan umkm Jokowi melihat program-program yang telah dikeluarkan Jokowi luar biasa. 

"UMI dan Mekar tidak hanya modal saja tapi juga memberikan pendampingan," terang Nita.

Luthfi menambahkan,  ia tergelitik untuk mengomementari statemem sandi mengenai pasar Indonesia. Menurut Luthfi, sekarang Indonesia telah memasuki zaman ekonomi yang kolaborasi dimana kedua belah pihak adalah mitra.

Menurut Hariyadi, debat yang baru saja selesai adalah referendum ekonomi terhadap pemerintahan Jokowi. Ia tidak setuju dengan pernyataan Arief mengenai Jokowi yang berhasil mengarahkan Indonesia. Ia menilai Jokowi telah gagal memahami ekonomi.

"Jokowi masih memisahkan antara ekonomi makro dan mikro. Keduanya berbeda tapi merupakan hal yang penting bagi ekonomi negara" terang Hariyadi dalam konferensi pers setelah Debat Final Capres 2019.

Ia juga menyatakan kembali tujuan utama Prabowo-Sandi untuk melindungi inti dari negara ini.

Erwin menambahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 5%. Hal ini menurut Erwin,  meleset dari janji Jokowi pada tahun 2014 yaitu, 7%. Erwin melihat investasi belum menjadi prioritas bagi Jokowi.

Berbeda dengan Jokowi, Erwin merasa program Prabowo-Sandi, lebih relevan bagi tumbuhnya investasi. 

Sementara itu, Rizal menyalahkan siapapun yang memberikan informasi ke Jokowi. "Belum ada tuh (oil refinery) yang dibangun" kata Rizal heran. 

Ia juga menambahkan terkait defisit neraca perdagangan. Ia menilai tidak ada strategi. Jokowi dianggap telah salah disini.

Lebih lanjut lagi ia menambahkan Jokowi terlalu mengistimewakan Tiongkok dalam perdagangan. 

"Ketika Pak Prabowo berkuasa, Prabowo bisa mengobrol dengan Presiden Xi Jinping untuk kebaikan kedua belah pihak " janji Rizal.

 

Reporter: Raihan Sujatmoko