Ekspor Indonesia Turun, Migas dan Non-Migas Lesu

Jakarta - Nilai Ekspor Indonesia pada April 2019 menunjukan penurunan sebesar 10,8% dibandingkan dengan satu bulan sebelumnya. Nilai ekspor Indonesia pada bulan April hanya mencapai angka $12,6 Miliar. Jika dibandingkan dengan Maret 2019, nilai ekspor Indonesia bisa mencapai $14.1 Miliar.

Menurut dokumen yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang didapatkan Wartawan Akutahu pada Rabu (15/05), penurunan nilai ekspor terjadi karena penurunan nilai ekspor pada sektor migas dan non-migas secara bersamaan. Ekspor migas Indonesia pada April 2019 turun sekitar 35% dibanding bulan sebelumnya. Dari ekspor migas, hanya ekspor minyak mentah yang menunjukan kenaikan sebesar 47,6% atau naik menjadi $177,6 Juta. Sedangkan variabel migas lain seperti ekspor minyak dan gas turun masing-masing sebesar 9,5 % dan 49,8% atau sebesar $117,7 Juta untuk minyak dan $446,6 Juta untuk gas.

Sementara itu, pada sektor non-migas, terjadi penurunan drastis pada ekspor perhiasan dan permata hingga lebih dari 50% atau sekitar $339,2 Juta. Nilai ekspor komoditas non-migas sangat lesu yang mana terjadi penurunan nilai ekspor di berbagai komoditas seperti minyak hewani, bahan bakar mineral, peralatan listrik, serta besi dan baja. Kenaikan hanya terjadi pada komoditas karet dan barang berbahan dasar karet yaitu sekitar $72,4 Juta atau sekitar 15,1%.

Jawa Barat Pengekspor Terbesar Indonesia

Jika dilihat dari data nilai ekspor, Jawa Barat menjadi pengekspor terbesar. Pada periode Januari-April 2019, Jawa Barat menyumbang sekitar $9,7 Juta ke dalam angka ekspor nasional. Nilai Ekspor Jawa Barat melewati Nilai Ekspor Jawa Timur dan Kalimantan Timur. Menurut Kepala BPS, Suharyanto setiap daerah punya produk andalan masing-masing.

"Jawa Timur biasanya perhiasan, Jawa Barat (biasanya menghasilkan red.) kendaraan bagian mesin dan alat elektronik" kata Suharyanto.

Suharyanto juga mengatakan masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan untuk mendongkrak nilai ekspor Indonesia.