Demi Generasi Mendatang, Pendidikan di Indonesia Perlu Ada Perubahan

Kesadaran akan kebebasan merupakan kunci dari praksis pendidikan yang memerdekakan. Dalam praktiknya, tidak ada lagi proses penjinakan (dehumanisasi) yang memandang guru adalah subjek penindas dan murid adalah objek yang tertindas.

Praksis pendidikan yang memerdekakan merupakan proses pendidikan yang seimbang dimana proses pendidikan itu sendiri dapat menyediakan ruang atau wadah untuk semua murid dapat berkreasi juga mengekspresikan dirinya.

Dari proses pendidikan itu bukan lagi menghasilkan para penindas baru sabagai hasil produknya. Justru sudah seharusnya dengan kesadaran menjadi manusia dalam proses mencapai kebebasan dapat melahirkan pemahaman kritis nantinya pada situasi yang baru.

Lalu apakah praksis pendidikan di Indonesia telah memerdekakan? Sudah banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk pendidikan, yakni perbaikan kurikulum KTSP 2006 menjadi Kurikulum 2013.

Dari laman web kemendikbud.go.id yang saya lihat dari konsep kurikulum 2013 sudah terdapat konsep penyempurnaan unsur-unsur pola pikir dalam perumusan kurikulum dan kesadaran akan proses pembelajaran yang mendukung kreativitas.

Di dalamnya pun dijelaskan mendasar bahwa kemampuan kreativitas diperoleh melalui proses mengamati, menanya, mencoba, menalar (observation based learning) dan membentuk jaringan (collaborative learning). Dyers, J.H. et al [2011], Innovators DNA, Harvard Business Review menyebutkan 2/3 dari kemampuan kreativitas seseorang diperoleh melalui pendidikan, 1/3 sisanya berasal dari genetik.

Kebalikannya berlaku untuk kemampuan kecerdasan yaitu 1/3 dari pendidikan, 2/3 sisanya dari genetik. Tapi pada praktik pembuatan regulasi, orientasi dan konsepnya yang kurang dapat dipahami membuat hal ini tidak berjalan maksimal sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang mencerdaskan kehidupan bangsa serta mengembangkan diri untuk menjadi manusia seutuhnya.

Dampak ketidakpahaman juga membuat pelaksana pendidikan kurang mengerti bagaimana konsep dari kurikulum 2013 ini. Alhasil, proses pendidikan masih berjalan sama saja. Dan lagi-lagi kita kembali diingatkan bahwasannya tidak ada satupun tindakan yang netral. Dalam pembuatan kurikulum dan segala upaya yang dilakukan pemerintah, saya belum dapat menilai apakah ini hanya bagian dari bentuk solidaritas semu pemerintah dalam menciptakan praksis pendidikan yang memerdekakan.

Foto: Kemendikbud.go.id