Belajar di Terminal Hujan

Kita harus menyadari bahwa masih banyak anak bangsa yang sulit mengenyam pendidikan. Dengan kondisi ekonomi yang lemah, dan tingginya biaya pendidikan, banyak generasi muda yang terpaksa putus sekolah atau bahkan tidak pernah merasakan duduk di bangku pendidikan formal sama sekali. Apakah hal tersebut 100% menjadi tanggung jawab pemerintah? Atau barangkali ada sisi yang dapat diisi oleh masyarakat umum? Sekelompok warga Bogor berhasil menjawab tantangan tersebut.

Berawal dari kekhawatiran akan kondisi lingkungan perkampungan di sekitar terminal, yaitu di Terminal Baranangsiang Kota Bogor, beberapa warga Bogor berinisiatif membangun komunitas pendidikan yang diberi nama Terminal Hujan. Terminal Hujan itu sendiri pada dasarnya merupakan sebuah gerakan social yang menyoroti pendidikan anak dan pemberdayaan ekonomi orang tua di wilayah setempat, yaitu di perkampungan belakang Terminal Baranangsiang Kota Bogor. Komunitas ini berdiri sejak tahun 2011. Dengan hiruk pikuk terminal yang sibuk dan dipenuhi beragam aktivitas, membuat anak-anak di sekitar terminal tidak bisa fokus belajar, yang dapat berdampak pada terganggunya pendidikan anak-anak tersebut.

Terminal Hujan itu sendiri memiliki beberapa aktivitas seperti diselenggarakannya kelas belajar mengajar reguler di luar jam sekolah formal, yang dibagi sesuai tingkat pendidikan anak, dari pre-school hingga SMP. Pelajaran yang diajarkan juga beragam mulai dari calistung (baca tulis hitung), Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan lain sebagainya.

Kepada Pikiran Rakyat, Alfa Nugraha selaku ketua Yayasan Terminal Hijau menginfokan bahwa kini jumlah peserta didik yang ada di komunitas Terminal Hujan mencapai 180 siswa. Kegiatan belajar mengajar yang dilakukan selama ini juga masih berada di lokasi dengan fasilitas seadanya, bahkan masih menumpang di kantor pemerintahan seperti Kantor Kelurahan Baranangsiang dan Kantor Urusan Agama (KUA) setempat.

Adapun para pengajar yang bernaung dalam komunitas Terminal Hujan ini merupakan volunteer atau sukarelawan, yang berasal dari berbagai profesi seperti perawat, pengusaha, mahasiswa dan karyawan. Saat ini jumlah volunteer yang ada mencapai 200 orang.

Aktivitas belajar mengajar yang dilakukan komunitas Terminal Hujan ini disambut positif dan diapresiasi pemerintah setempat. "Dulu di sana banyak anak jalanan dan putus sekolah karena kurangnya perhatian dari orang tua dari kalangan ekonomi lemah," kata Fahrudin atau yang akrab disapa Fahmi, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor beberapa waktu lalu sebagaimana dikutip Pikiran Rakyat. Hal ini bahkan memotivasi pemerintah setempat melakukan kegiatan yang dapat mendukung pendidikan di wilayah tersebut.

Untuk warga kota Bogor yang menyukai bidang pendidikan dan belajar-mengajar, silakan bergabung di komunitas ini yaa!

 

sumber:

www.komunita.id

www.pikiran-rakyat.com

www.terminalhujan.org

Kamu suka dengan konten akutahu.com? Berikan dua jempol sebagai tanda kamu menyukai konten ini.

Beritahu cuan reaksi kamu setelah membaca konten ini.

like
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0