Godzilla King of Monsters, Persaingan Memperebutkan Takhta Raja dari Para Monster

Jakarta - Godzilla kembali lagi ke layar lebar. Setelah menghancurkan San Francisco dan Hawaii pada film Godzilla yang keluar tahun 2014, kali ini Godzilla kembali beraksi. Kali ini tujuannya adalah persaingan memperebutkan takhta raja dari para monster.

Film dimulai dengan klip dari film sebelumnya ketika Dr. Emma Russell (Vera Farmiga) dan Dr. Mark Russell (Kyle Chandler) kehilangan anak pertama mereka karena serangan Godzilla di San Francisco. Emma kini telah bercerai dengan Mark, masih bekerja di Monarch, organisasi rahasia dunia yang memiiki fokus perhatian pada keberadaan Kaiju seperti Godzilla sedangkan Mark memilih keluar dari Monarch. Anak kedua mereka Madison (Millie Bobby Brown) memilih tinggal dengan ibunya namun tetap menjalin kontak dengan ayahnya.

Emma sedang ditugaskan di belantara hutan di Yunnan, Tiongkok untuk meneliti larva Kaiju jenis kupu-kupu, Mothra ketika kelompok eko-teroris yang dipimpin Dr. Alan Jonah (Charles Dance) menyerbu masuk ke fasilitas Monarch dan menembaki para pegawai Monarch. Jonah menyekap Emma dan Madison dan memaksa Emma untuk menunjukan lokasi tersegelnya para Kaiju, Salah satunya, Kaiju legendaris yang disegel di Antartika, King Ghidorah. Selain itu, Jonah juga mengincar ORCA, alat yang diciptakan Emma untuk bisa berkomunikasi dengan Kaiju.

Mengetahui seberapa pentingnya rahasia yang diketahui Emma, Monarch meminta Mark untuk ikut dalam misi penyelamatan Emma ke Antartika karena hanya Mark yang mengerti cara kerja ORCA selain Emma. Di Antarika, Mark dan Monarch sadar kalau Emma lah otak dari operasi yang dilakukan Jonah. Ia meledakkan gunung es yang membekukan King Ghidorah lalu pergi dengan kelompok teroris Jonah.

Bebasnya Ghidorah yang memiliki kekuatan mengendalikan Kaiju lain, menyaingi keberadaan Godzilla yang memiliki kekuatan sejenis. Mereka bertarung untuk memperebutkan gelar raja para monster.

Peran Manusia yang insignifikan

Dalam film ini, para penonton akan disajikan berbagai aksi para monster dalam menghancurkan kota, memusnahkan manusia, dan bertarung antar sesamanya. Adegan-adegan tersebut dirangkai sedemikian rupa sehingga menimbulkan efek kejut dan menegangkan. Bagi para penyuka film bertemakan bencana atau monster, film ini akan banyak menghadirkan efek visual menarik yang akan memanjakan para penonton.

Akan tetapi, dalam film ini manusia digambarkan sebagai makhluk yang tidak memliki daya dan upaya untuk melawan para monster. Segala teknologi persenjataan selalu mental, tidak bisa menembus kulit para Kaiju. Jikapun ada efek, itupun hanya efek pengalih perhatian agar Kaiju lain bisa menyerang.

Selain itu, motivasi manusia, dalam hal ini Emma dalam membangkitkan para Kaiju juga sulit masuk di akal sehat. Setelah kehilangan anak pertamanya karena serangan satu Kaiju, Emma berniat membangkitkan Kaiju lain untuk melenyapkan sebagian umat manusia hanya untuk alasan lingkungan yang latar belakangnya tidak dibangun secara kokoh. Bukankah dengan dibangkitkannya Kaiju lain, nyawa anak satu-satunya juga akan terancam? Apakah sutradara Michael Dougherty ingin menunjukan seberapa fatal trauma seorang ibu yang telah kehilangan anaknya, hingga tidak bisa berpikir secara rasional?

Seperti judulnya, Godzilla: King of Monsters, film ini berfokus pada Godzilla dan para monster. Aksi para monster adalah yang utama dalam film ini. Bagi para pecinta pertarungan para monster, film ini adalah opsi yang tepat.