Era globalisasi tidak hanya memberikan sebuah peluang namun juga memberikan ancaman. Salah satu solusi untuk mempertahankan nilai-nilai sesuai dengan kepribadian bangsa melalui bela negara. Bela negara dimaksudkan sebagai upaya untuk menumbuhkan semangat patriotisme dan cinta tanah air kepada seluruh warga negara Indonesia. Namun yang perlu dipahami bahwa bela negara dalam konteks kekinian tidak mengutamakan wajib militer, tetapi lebih mengutamakan dimensi kreativitas, sosial media, dan acara-cara hiburan yang edukatif. Lebih lanjut, gerakan bela negara melibatkan Badan Ekonomi Kreatif. Hal ini untuk menindaklanjuti pemaknaan konsep bela negara dalam konteks kekinian yang lebih bersifat nonmiliter. Target bela negara dibidang ekonomi adalah merubah pola konsumsi masyarakat Indonesia dari mengkonsumsi produk luar menjadi mengkonsumsi produk dalam negeri.
Masyarakat Indonesia saat ini lebih bangga menggunakan produk berlabel impor yang dipengaruhi dari rasa gengsi, kualitas, harga dan lainnya. Hal ini dibuktikan dengan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan total impor barang konsumsi sepanjang agustus 2017 sebesar USD 1,19 milyar atau naik 9,39% dibandingkan bulan lalu sedangkan selama januari sampai agustus 2017 tercatat sebesar USD 9,07 miliar atau naik 11,76% dibandingkan januari sampai agustus. Hal ini tentunya harus kita antisipasi dengan meningkatkan kualitas dan penjulan produk lokal atau dalam negeri.
Salah satu produk dalam negeri yang patut dilirik oleh pemerintah adalah Tenun dari Nusa Tenggara Barat (NTB) yang memiliki potensi untuk berkembang. Sayangnya, harga tenun tidak bersahabat dengan kondisi masyarat NTB yang masih banyak dibawah garis kemiskinan. Belum lagi produk dari tenun hanya digunakan pada acara-acara formal. Rahardjo (2010), dalam kata pengantar buku Tenun Handwoven Textiles of Indonesia, mengatakan bahwa di Indonesia modern, menenun menjadi bagian penting dalam kehidupan banyak orang, meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa langkah cepat kehidupan modern mulai melupakan kepentingan itu.
Salah satu inovasi generasi muda Nusa Tenggara Barat yaitu Jam Tenun Etnik Oleh-Oleh SASAMBO (JONES). Dengan tetap mengangkat kearifan lokal namun tetap modis dan kekinian, jam ini dibalut kain tenun khas SASAMBO (Sasak, Samawa, Mbojo) sebutan suku di Nusa Tenggara Barat. Jam tersebut juga didesain latar jam tangan dengan menambahkan ikon dan bunyi yang melambangkan identitas dari Suku SASAMBO. Produk yang dihasilkan dibagi menjadi tiga tipe yaitu tipe I produk desain kain tenun Suku Sasak dengan penambahan latar belakang jam ikon Masjid Islamic center dikombinasikan dengan suara adzan sebagai pengingat waktu sholat, untuk Peresean, Gendang Belek, rumah adat sasak dikombinasikan dengan bunyi khas yang melambangkan identitas Suku Sasak. Tipe II produk desain kain tenun Suku Samawa dengan latar belakang jam ikon balapan kebo, istana dalam loka dikombinasikan dengan bunyi khas yang melambangkan Suku Samawa.
Tipe III yaitu produk desain kain tenun Suku Mbojo dengan latar belakang jam dengan ikon dari mbojo diantarnya rumah lengge, istana kesultanan bima, festival kuda bima dikombinasikan dengan bunyi khas dari Suku Mbojo. Selain itu pada pengemasan JONES (Jam Oleholeh Tenun Etnik SASAMBO) akan dilengkapi dengan lembaran produkknowledge dalam dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan inggris. Dengan adanya inovasi generasi muda untuk terus mengembangkan kearifan lokal berdampak positif untuk meningkatkan rasa bela negara.



Sumber:
BPS, ”Laporan Ekonomi dan Perdagangan,” Badan Pusat Statistik (BPS) 2017, dalam https://www.bps.go.id/all_ newtemplate.php#accordion-daftarsubjek2, diakses pada 16 Oktober 2017.
Rahardjo, D.T. (2010). Tenun handwoven textiles of Indonesia (1st ed.). Jakarta: Cita Tenun Indonesia.
Peri Angraeni.2017. JONES (Jam Oleh-oleh Tenun Etnik SASAMBO): Solusi Pemanfaatan Kain Tenun untuk Mewujudkan Ekonomi Kreatif. Mataram. Mataram University press