Bagi para penikmat komik Marvel, Venom adalah sosok anti-hero yang kuat dan sadis. Ia adalah sebuah symbiotes, alien berbentuk seperti lendir berwarna biru yang bergerak layaknya parasit yang mencari inang untuk tetap hidup. Dalam khazanah komik Marvel, Venom selalu dikisahkan berkonflik dengan Spiderman dan menjadi salah satu musuh ikoniknya selain Green Goblin dan Doctor Oc. Meskipun begitu, sebagai anti-hero dia tidak sepenuhnya antagonis. Dalam beberapa kesempatan, ia bahu-membahu dengan Spiderman untuk melawan beberapa musuh.

Dalam film ini, diceritakan sebuah pesawat antariksa milik Life Foundation yang membawa symbiotes mengalami kecelakaan dan jatuh di Malaysia. Satu dari empat symbiote berhasil kabur karena mendapatkan inang. Sementara itu di San Francisco, Eddie Brock (Tom Hardy) adalah seorang jurnalis investigatif yang dipecat karena memberikan pertanyaan-pertanyaan sensitif terhadap kehidupan asli dari Carlton Drake (Riz Ahmed), CEO dari Life Foundation. Summber pertanyaan-pertanyaan ini berasal dari dokumen milik Anne Weying (Michelle Williams), pacar Brock yang merupakan pengacara dari Life Foundation. Alhasil Brock dan pacarnya dipecat dari pekerjaan masing-masing. Malang bagi Brock, ia pun diputuskan oleh Weying dan berakhir menjadi gelandangan yang hanya bisa meratapi nasibnya.

Sementara itu Dr. Dora Skirth (Jenna Slate), seorang bawahan dari Carlton Drake, mulai muak dengan tindakan Drake yang memanfaatkan para gelandangan untuk jadi kelinci percobaan dengan memasukan Symbiote ke dalam tubuh mereka. Para gelandangan satu per satu tewas karena tubuhnya tidak bisa menjadi inang bagi para symbiote. Skirth memutuskan mencari Brock agar kejahatan Drake dapat diungkap segera. Brock pun diselundupkan ke dalam gedung penelitian Life Foundation. Disana, secara tidak terduga Brock terpapar symbiote setelah berusaha menolong teman gelandangannya yang menjadi kelinci percobaan disana. Tubuh Brock ternyata cukup kuat untuk menampung symbiote sehingga Brock tidak mati setelah terpapar symbiote.

Singkat cerita, Brock mendapatkan kekuatan super karena symbiotes bernama Venom memilihnya menjadi inang. Ia bisa memulihkan segala luka yang ada di tubuhnya, bergerak dengan lincah, melompat sangat tinggi, pukulan yang lebih menyakitkan dan paling penting dapat membentuk symbiote menjadi berbagai senjata. Akan tetapi, sebagai gantinya ia harus berbagi tubuh dengan Venom, alhasil parasit tersebut juga dapat mengendalikan Brock. Petualangan Brock dengan Venom pun dimulai dari sini.

Dalam film garapan Ruben Fleischer ini, sepertinya fans Marvel tidak bisa berekspektasi tinggi. Sifat sadis Venom tidak digambarkan dengan eksplisit karena rating PG-13 yang disematkan untuk memperbesar potensi pasar film ini. Selain itu bagi penikmat komik Marvel sejati, pemilihan karakter dalam film juga tidak sesuai dengan apa yang ada dalam komik. Antagonis utama diceritakan sebagai Carlton Drake yang “ditunggangi” oleh Symbiote bernama Riot. Dalam kisah aslinya, Carlton Drake dan Riot adalah dua karakter yang terpisah. Selain itu, tidak ada Spiderman dalam film ini. Venom seperti punya dunia sendiri yang terpisah dari Marvel.

Hal yang paling jadi kekurangan dari film ini adalah banyaknya “lubang” dalam cerita. Symbiote dalam film ini diceritakan sebagai alien brutal yang suka memakan manusia tapi tiba-tiba ia berkhianat terhadap bangsanya sejak bertemu Eddie Brock. Bukan karena terenyuh dengan kemanusiaan atau melihat kekejaman Carlton Drake. Ia berganti pihak secara instan karena melihat Brock ternyata seorang pecundang, begitu pula Venom yang di planetnya sendiri juga bernasib sama. “Pertaubatan” Venom jelas sulit diterima akal. Mungkin Fleischer percaya kalau dalam mengubah watak karakter, tidak perlu ada alasan? Apapun alasannya, bertaubatnya Venom karena solidaritas sesama pecundang adalah alasan yang picisan.

Selain itu, pemilihan Riz Ahmed sebagai Carlton Drake cukup mengejutkan. Dalam komik, Carlton Drake digambarkan sebagai seorang Kaukasian yang sudah berumur. Fleischer mendekonstruksi karakter Drake menjadi semacam Elon Musk dari India berumur sekitar 20-30 tahun yang menjadi CEO sebuah perusahaan teknologi. Tidak ada usaha untuk membuat rasionalitas kenapa orang bernama Carlton Drake bisa terlihat seperti orang India atau Arab. Bukan masalah rasis atau anti- perubahan namun, nama Carlton Drake dengan wajah Riz Ahmed tidaklah wajar. Penonton dipaksa untuk menerima ketidakwajaran ini tanpa penjelasan. Fleischer bisa saja mengisahkan Drake sebagai anak adopsi atau keturunan negara lain tapi Fleischer memilih untuk mengabaikannya seakan penonton tidak akan berpikir kearah situ.

Akan tetapi, secara garis besar Film Venom sangatlah menghibur. Meskipun kita tidak menyaksikan Venom bergulat dengan Spiderman atau masuk ke dalam Marvel Cinematic Universe, penonton akan disuguhkan dengan berbagai aksi perkelahian, kebut-kebutan dan yang paling penting, kreativitas para symbiote dalam membentuk diri mereka sebagai senjata. Akting Tom Hardy disini patut diacungi jempol. Ia berhasil memerankan versi protagonis dari Eddie Brock dengan akurat. Penggambaran Hardy terhadap transformasi Eddie Brock dari wartawan nekat, gelandangan yang kehilangan semangat hidup, hingga orang yang menyimpan dendam kesumat karena hidupnya berantakan diekspresikan dengan sangat apik. Secara garis besar, Venom adalah film aksi yang menghibur bagi pecinta film aksi-fantasi berbasis sains.

Kamu suka dengan konten akutahu.com? Berikan dua jempol sebagai tanda kamu menyukai konten ini.

Beritahu cuan reaksi kamu setelah membaca konten ini.

like
1
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0