• A PHP Error was encountered

    Severity: Notice

    Message: Undefined variable: rss_hide

    Filename: partials/_social_media_links.php

    Line Number: 45

    Backtrace:

    File: /home/isnaenirikki/public_html/application/views/partials/_social_media_links.php
    Line: 45
    Function: _error_handler

    File: /home/isnaenirikki/public_html/application/views/partials/_header.php
    Line: 770
    Function: view

    File: /home/isnaenirikki/public_html/application/controllers/Home.php
    Line: 164
    Function: view

    File: /home/isnaenirikki/public_html/index.php
    Line: 315
    Function: require_once

Uniknya, Kampung Naga dengan Adat Istiadat yang Patut Dilestarikan

Penikmat jalur selatan mungkin tidak asing dengan istilah tempat Kampung Naga. Berlokasi di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, Kampung Naga memiliki daya tarik unik yang membuat pengunjung datang. Penyematan nama Naga hanya sekedar simbolis belaka. Pada awalnya, Kampung Naga sempat tidak mengizinkan pendatang atau orang luar karena sesepuh tidak menginginkan daerahnya menjadi objek wisata. Namun, berkat upaya rekonsiliasi, Kampung Naga kini telah dibuka untuk umum dengan beberapa aturan.

Secara historis, Kampung Naga tidak memiliki data sejarah yang pasti, sehingga sering disebut ‘pereum obor’. Pereum yang bermakna mati atau gelap dan obor yang bermakna lampu atau penerangan. Jika diterjemahkan secara eksplisit bermakna ‘matinya penerangan’. Hal ini karena beberapa arsip historis telah dibakar oleh organisasi DI/TII Kartosoewiryo tahun 1956. Sebab pembakaran adalah ketidakberpihakan masyarakat Kampung Naga kepada organisasi tersebut, malah berpihak kepada pemerintah Soekarno. Adapun dalam sejarah pembentukan, tour guide mengatakan seorang abdinya yang bernama Singaparana ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke sebelah Barat pada masa kewalian Sunan Gunung Jati. Dalam proses penyebaran, sang abdi bersemedi  di daerah Desa Neglasari yang disebut Kampung Naga. Dari proses persemedian tersebut, Kampung Naga lahir.

Jika Anda ingin berkunjung ke Kampung Naga, ada beberapa aturan yang harus ditepati. Kampung Naga lekat dengan kemurnian adat istiadat. Demi menjaga kemurnian tersebut, warga Kampung Naga menolak menggunakan listrik dan elpiji ketika ditawarkan pemerintah. Warga Kampung Naga lebih memilih masak menggunakan tungku dengan minyak berasal dari subsidi pemerintah daerah setempat

 

“Sudah aturannya dari leluhur karena bahan rumah kami mudah terbakar jadi tak boleh ada itu,” jelas Yudhi, pemandu wisata.

Selain itu, pengunjung harus membawa powerbank atau baterai cadangan untuk mengatisipasi baterai habis. Selain listrik dan elpiji, warga Kampung Naga memiliki kebiasaan untuk membangun rumah menghadap selatan atau utara dengan memanjang barat-timur. Hal ini untuk menjaga keharmonisan antarwarga ketika ingin keluar dari rumah (adanya interaksi). Selain itu, bahan rumah harus terbuat dari bambu dan kayu dengan bentuk panggung. Atap rumah dibuat dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang.  Pintu juga tidak boleh dibuat sejajar karena dipercaya akan rezeki masuk dari pintu depan dan keluar dari pintu belakang. Ditambah lagi, warga Kampung Naga dilarang menggunakan perabotan rumah, seperti kursi dan juga mengecat rumah. Betapa kelestarian adat-istiadat leluhur dijaga dengan baik.

Keunikan Kampung Naga diilhami oleh pengunjung setempat.  Tofan, salah satu pengunjung mengatakan, "Kampung Naga ini memang menarik untuk dikunjungi. Setidaknya pengunjung bisa belajar budaya setempat, karena kearifan lokalnya yang masih terjaga dengan baik"

 

Sumber : goodnewsfromindonesia.id, travel.kompas.com, timesindonesia.co.id, travel.detik.com

Sumber gambar : travel.kompas.com, goodnewsfromindonesia.id.

Kamu suka dengan konten akutahu.com? Berikan dua jempol sebagai tanda kamu menyukai konten ini.

Beritahu cuan reaksi kamu setelah membaca konten ini.

like
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
1