Tingkatkan Ekonomi Inklusif, DNKI Dorong Agen Bank di Desa

Jakarta - Keuangan Inklusif merupakan tujuan yang masih ingin diraih oleh Indonesia. Sebuah badan khusus didirikan untuk itu yaitu, Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DNKI). Media Akutahu mendapatkan kesempatan untuk berbincang dengan Kepala Manajemen Proyek DNKi, Djauhari Sitorus di kantor Sekretarian DNKI di Lapangan Banteng, Jakarta pada Kamis (05/09).

Djauhari melihat keuangan inlklusif menjadi urgensi yang tidak bisa ditawar lagi. Publik internasional telah membicarakan soal topik ini di berbagai forum. Bank Dunia juga telah menerbitkan laporan khusus membahas keuangan inklusif. Dalam laporan khusus itu, peringkat Indonesia berada di bawah Tiongkok dan India

"Tingkat inklusifitas ekonomi Indonesia 49% dan ia merupakan negara dengan pertumbuhan inklusifitas ekonomi di Asia Timur dan Tenggara" Terang Djauhari.

Djauhari melanjutkan, peringkat itu belum cukup bagi Indonesia dalam mencapai masa keuangan inklusif. Untuk itu perlu adanya peningkatan dalam bidang infrastruktur salah satunya adalah infrastruktur bank yang merata di Indonesia.

Akan tetapi, membangun bank di desa-desa di seluruh Indonesia tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, Djauhari menawarkan solusi yaitu, agen bank. Agen bank adalah orang yang menjadi perwakilan dari bank. Menurut Djauhari, menggunakan agen akan memangkas biaya  pembukaan cabang bank di berbagai desa. Jadi sekalipun tidak ada cabang bank, rakyat di daerah terpencil tetap bisa mengakses layanan bank.

Bagi Djauhari skema pengadaan agen bank selain memangkas biaya yang tidak perlu juga lebih efektif dan membantu perekonomian masyarakat desa.

"Penduduk desa tidak perlu mengantre dari jam 8 sampai jam 5 (untuk mengakses layanan bank -red), wong tetangganya sendiri" Terang Djauhari.

Lebih lanjut lagi, skema ini juga akan menambah penghasilan para agen bank yang biasanya merupakan wiraswasta pemilik warung di desa. Jadi secara tidak langsung skema ini juga meningkatkan perekonomian masyarakat desa.