Tidak Menunjukkan Gejala Awal, Ini Bahaya Kanker Kolorektal

Jakarta - Penderita kanker kolorektal terkadang kurang mendapatkan diagnosis dini. Akibatnya, kankernya terlanjur menyebar dan terlambat diobati. Oleh sebab itu, penting untuk mengenali gejala kanker kolorektal agar penanganan yang dilakukan dapat lebih baik dan efektif.
 
“Awal terjadinya kanker kolorektal biasanya mirip dengan diare, yaitu ada darah pada kotoran (feses), berubahnya tekstur kepadatan kotoran baik bertambah keras hingga akhirnya menjadi konstipasi atau bertambah cair, tubuh terasa lelah, nyeri perut, perut kembung serta nafsu makan menurun. Jika Anda mengalami satu atau beberapa gejala tersebut, jangan ragu untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Semakin awal penyakit terdeteksi maka semakin mudah pengobatan yang akan dilakukan dan peluang pasien untuk sembuh juga semakin besar,” kata dr. Yosef Fransiscus.

Perkembangan kanker kolorektal secara umum adalah interaksi antara faktor lingkungan dan faktor genetik.  Beberapa faktor lingkungan (multiple cause) beraksi terhadap predisposisi genetik (kerentanan genetik) atau defect yang didapat dan berkembang menjadi kanker usus besar.  
 
Hal itu juga ditegaskan oleh dokter spesialis penyakit dalam OMNI Hospitals Pulomas dr. Chyntia Olivia Maurine Jasirwan, Sp.PD, Ph.D, terdapat banyak faktor yang dapat meningkatkan atau menurunkan risiko terjadinya kanker kolorektal, yaitu faktor yang dapat dimodifikasi dan yang tidak dapat dimodifikasi.

Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi adalah herediter (genetik, misal HNPCC dan FAP) dan familial (riwayat keluarga yang mengalami kanker kolorektal). Faktor risiko yang dapat dimodifikasi adalah inaktivitas, obesitas, konsumsi tinggi daging merah, merokok dan konsumsi alkohol dalam kadar sedang atau sering. Mutasi genetik ditengarai menjadi faktor utama pemicu kanker kolorektal. Artinya, seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan kanker kolorektal akan berisiko juga mengalami penyakit ini.

“Ada 2 jenis kanker kolorektal yang bersifat keturunan, yakni Hereditary nonpolyposis colorectal cancer (HNPCC) atau dikenal dengan sindrom Lynch dan Familial adenomatous polyposis (FAP). Seseorang dengan sindrom Lynch berisiko tinggi mengidap kanker kolorektal sebelum usia 50 tahun. Sedangkan, FAP ditandai dengan munculnya ribuan benjolan kecil (polip) pada dinding usus besar dan rektum. Ini termasuk penyakit langka. Seseorang dengan FAP berisiko berkali-kali lipat mengalami kanker kolorektal sebelum usia 40 tahun.”ujar dr. Chyntia.