Ternyata Hidup Di Kota Besar Dapat Menimbulkan Depresi Lho

Masyarakat yang tinggal di kota besar memiliki kecenderungan 40% lebih besar mengalami resiko depresi dan penyakit-penyakit mental lainnya dibandingkan dengan mereka yang tinggal di kota lebih kecil ataupun di pedesaan. Tingkat stress masyarakat di perkotaan juga terus meningkat di setiap tahunnya. Lebih lanjut lagi, ternyata wanita cenderung 2 kali lebih besar mengalami resiko depresi dibandingkan pria. Namun, seorang pria tercatat memiliki dampak yang lebih parah dan bekepanjangan dibandingkan dengan wanita. Dampak paling serius dari masalah tersebut adalah penyalahgunaan zat terlarang, kegilaan, dan bahkan aksi bunuh diri.

Tingginya resiko depresi di kota besar disebabkan oleh beberapa hal seperti:

1. Ekonomi

Besarnya biaya hidup di daerah perkotaan seringkali sulit untuk diimbangi dengan penghasilan yang didapatkan. Permasalahan-permsalahan tersebut berpotensi menimbulkan stress dan kecemasan yang tinggi, terlebih lagi jika seseorang terlilit hutang dengan bunga yang semakin membengkak, maka kecemasan yang ada akan teramplifikasi dan berujung pada masalah-masalah mental yang lainnya.

2. Pekerjaan

Target kerja di kota besar yang dinamis dan terus meningkat, persaingan kerja yang ketat, iklim kerja yang kadang tidak baik, serta kurangnya waktu untuk beristirahat merupakan kondisi-kondisi yang sering dihadapi oleh masyarakat perkotaan. Jika kemudian seseorang tidak dapat menyeimbangkannya dengan kualitas kehidupan pribadi yang baik, dan dicapai dengan cara yang baik pula, maka akan menghasilkan stress akut yang lama kelamaan menumpuk dan menjadi kronis.

3. Kepadatan Penduduk

Terdapat korelasi positif antara Kesesakan dan Kepadatan, dengan tingkat stress yang dialami seseorang. Tingginya tingkat stress tersebut dipicu oleh relatif terbatasnya ruang gerak yang dimiliki oleh seseorang. Terbatasnya ruang gerak berimbas kepada tidak tercukupinya ruang privasi yang dibutuhkan. Dengan kata lain, seseorang yang berada dalam kesesakan akan lebih sulit untuk memiliki “Me Time” yang berkualitas karena tingginya frekuensi untuk terpapar oleh stimulus-stimulus dari lingkungan luar, yang harus selalu direspon, terlebih lagi jika kondisi stimulus luar tersebut bersifat negatif.

Beberapa contoh dampak negatif dari kepadatan dan kesesakan adalah kemacetan di jalan, serta konflik yang kerap muncul di pemukiman padat penduduk.

4. Dinamika Kemsyarakatan

Bayangkan apa yang akan terjadi jika orang-orang yang sedang didominasi oleh emosi negatif (kemarahan, kekesalan, dll) akibat tuntutan ekonomi, masalah di tempat kerja, baru saja mengalami macet parah berkumpul dan berkomunikasi 1 sama lainnya, kira-kira akan seperti apakah situasinya? Negatif. Situasi tersebut merupakan penggalan kedaan yang kerap terjadi di kota besar. Orang-orang yang sedang mengalami stress akut berkumpul dan bergesekan satu sama lain sehinggu memicu semakin meningkatnya tingkat stress yang dialami oleh masing-masing individu.

Terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menurunkan resiko mengalami depresi. Langkah-langkah tersebut adalah:

1. Evaluasi Diri dan Merubah Gaya Hidup

Evaluasi kembali sudah seberapa positifkah gaya hidup yang dijalani saat ini? Apakah sudah memiliki waktu tidur yang cukup? Apakah makanan yang dikonsumsi sudah cukup bergizi? Apakah masih terjebak dalam ketergantungan nikotin, alcohol, atau bahkan zat-zat terlarang? Sudah cukupkah olahraga yang dilakukan? Sudah menjadi diri sendiri dan cukup terbuka kah kepada orang lain? Dan, sudah cukup berkualitaskah hubungan dengan Sang Pencipta? Kalau masih belum, perbaiki.

2. Merubah Gaya Berpikir

Gaya berpikir seseorang adalah kunci utama yang menentukan nuansa mood yang dimiliki oleh seseorang. Gaya berpikir yang lebih didominasi oleh pikiran-pikiran negatif seperti kebencian, iri , dengki, ketakutan, akan cenderung membentuk pribadi yang depresif. Sebaliknya, gaya berpikir positif akan membawa seseorang untuk lebih mudah menemukan kebahagiaan dan hidup yang penuh rasa syukur.

3. Filtrasi Pengaruh Sosial

Belajarlah untuk memilah-milah lingkungan pergaulan dan mengendalikan social media, pertimbangkan lagi apakah sudah cukup positif lingkungan pergaulan dan akun-akun social media yang diikuti. Paparan-paparan informasi yang didapatkan dari lingkungan dan social media memiliki andil yang besar dalam membentuk gaya berpikir seseorang. Choose only positive.

Sumber: Acta Psychiatrica, psychiatrictimes.com, Dr Jie-Yu Chuang of Cambridge University

Gambar: freepik.com