Terlihat di Indonesia, Peneliti LAPAN: Gerhana Bulan Ini Unik

Jakarta - Gerhana bulan parsial terlihat di Indonesia pada Rabu (17/07) dini hari. Gerhana bulan ini membuat sebagian dari suasana malam tampak cerah, dengan nuansa warna merah yang tersebar di langit malam.

Menurut Peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Dr. Rhorom Priyatikanto saat dihubungi Media AKUTAHU, menjelaskan bahwa terjadinya gerhana bulan dikarenakan sebagian bulan masuk ke bayang-bayang bumi. Hal ini membuat sinar bulan yang terang menjadi gelap sebagian.

"Langit jadi lebih cerah, karena bulan masuk dalam bayang-bayang bumi. Jadi, biasanya langit malam terkihat gelap, saat gerhana tampak bersinar," sebut Dr. Rhorom.

Menurut Rhorom, gerhana bulan yang terjadi pada Rabu dini hari memiliki keunikan tersendiri. Gerhana bulan jenis ini hanya akan datang 18 tahun sekali.

"Menurut saya, keunikannya (gerhana bulan) adalah gerhana bulan ini  terjadi menjelang subuh. Saat itu (posisi) bulan sudah cukup rendah sehingga bagus untuk dipotret dengan latar depan gedung, gunung, dan sebagainya" Kata Rhorom dalam pesan singkatnya.

Gerhana bulan parsial memasuki fase akhir pada pukul 05.59 WIB. Ini merupakan gerhana bulan terakhir di tahun 2019.

Menurut Rhorom, akan ada gerhana bulan yang terlihat pada 26 Mei 2021 ke depan.

Di Jakarta, beberapa orang menikmati keindahan gerhana bulan dengan menyaksikannya melalui teleskop di Planetarium, Cikini, Jakarta Pusat. Fenomena alam ini sayang untuk dilewatkan karena hanya terjadi setiap 18 tahun sekali.

Foto: Instagram  @BMKG