Tak Hanya Mengajar, Ini Kenangan Tak Terlupakan di Wailoba

Jakarta - Guru disebut menedidik tanpa kenal lelah. Meski lelah dan peluh, membuat generasi bangsa memiliki pengetahuan demi nasa depan, menjadi tugas utamanya. Bahkan, beberapa guru pun ada  yang rela ditempatkan di wilayah yang sangat jauh dari rumah.

Hal itu dialami guru dari Indonesia Mengajar. Dengan tanggung jawab diemban, tenaga didiknya bersedia ditempatkan di beberapa daerah yang tersebar di Indonesia. Salah satunya, pengajar bernama Juang Akbar Magenda, Pengajar Muda yang bertugas di Kabupaten Sula, Maluku Utara, masa tugas Desember 2017 sampai November 2018.

Sepanjang setahun di Wailoba, pengajar muda itu dihadapkan dengan budaya baru, diantaranya Minum teh atau win te dalam bahasa Sula. Sebelum beraktivitas, warga selalu minum teh lebih dulu. Tehnya harus manis dan disandingkan dengan kue-kue, bisa donat, roti, atau pisang goreng. Tidak ada sarapan nasi atau lauk pauk yang lengkap saat pagi. Makan ‘berat’ hanya ada pada siang dan malam hari.

Biasanya, Pengajar Muda yang kebetulan berasal dari Pulau Jawa selalu sarapan nasi sebelum bekerja atau aktivitas lain. Efeknya, sempat mengalami pusing karena kurang bertenaga. Berhari-hari baru perut mulai terbiasa.

Hal unik lainnya, budaya amal bakti, dimana setiap warga desa, khususnya laki-laki harus membantu pembangunan desa sesuai arahan kepala desa dan ketua suku adat. Contoh amal bakti adalah angkat batu dan pasir pantai untuk pembangunan masjid, tarik kapal kopra (kelapa) dari darat ke laut, potong kayu di hutan untuk bangun balai desa, hingga memancing ikan di laut untuk perayaan hari-hari besar agama.

Semua kegiatan itu dilakukan warga dengan suka cita, tanpa pamrih. Pihak desa hanya menyiapkan konsumsi untuk semua warga yang bekerja. Tidak ada transaksi uang disitu, justru rasa kebersamaan dan kekeluargaan yang kental. Ternyata gotong royong benar ada dan sangat terasa pelaksanaannya di Wailoba.

Gotong royong bukan cuma amal bakti. Selain itu, ada pesta dilakukan saat ada acara pernikahan warga desa. Sehari sebelum akad pernikahan, berlangsung prosesi adat “saro badaka”.

Saro badaka adalah proses memberikan bedak kepada calon pengantin pria dan wanita dengan diiringi lagu adat, doa, dan kue yang diputar putar di depan wajah calon pengantin. Ketika hari akad tiba, proses makan bersama satu desa terjadi, siang hari semua warga desa makan sepuasnya, tak ada satu warga yang melewatkan pernikahan, memang begitu bahagia dan sakralnya pernikahan di desa. Malam harinya adalah malam pesta, setiap warga dipersilakan membawa pasangan masing-masing untuk berjoget atau berdansa.

Budaya lain yang jadi kebiasaan yaitu menjadi pendamping untuk segala acara. Menjadi Pengajar Muda berarti siap mendampingi pendidikan di penempatan setahun penuh, termasuk saat hari besar tiba.

Jadi, saat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha tiba, pengajar yang tengah bertugas menghabiskannya di Wailoba. Beruntungnya, saat hari raya di desa tak pernah sepi. Malam hari sebelum hari lebaran, semua warga desa melakukan pawai obor, bersahutan mengumandakan kalimat takbir.

Di hari lebaran takbir keliling desa masih juga dilakukan. Seusai sholat, kepala desa mengajak semua jamaah untuk takbir keliling. Ternyata takbir keliling yang dimaksud kepala desa yaitu  mengunjungi rumah warga satu per satu. Ini bertujuan untuk melakukan doa takbir dan makan di rumah yang rombongan kunjungi.

Kebersamaan di warga desa itu terlihat dari kegiatan takbir keliling yang dilakukan dari pukul 8.00 hingga pukul 17.00 waktu setempat. Ada puluhan rumah yang dikunjungi dan di setiap rumah, harus berdoa, takbir, dan mencicipi hidangannya.

Meski ia telah kembali ke kampung halamannya, kenangan dan pengalaman itu akan terus terpatri di dalam ingatan pengajar muda tersebut. (Dp)