Sukun, Buah Unik dengan Sejuta Manfaat

Seperti kita ketahui, banyak sekali bahan-bahan organik yang mengandung karbohidrat dengan jumlah yang tinggi tersebar di alam bebas, salah satunya buah sukun. Buah sukun merupakan jenis buah yang banyak tumbuh di daerah tropis termasuk di Indonesia. Namun, pemanfaatan buah sukun masih kurang optimal jika dibandingkan dengan tanaman penghasil karbohidrat lainnya, misalnya kentang. Padahal, sukun juga bisa dimanfaatkan buah sukun dimanfaatkan sebagai produk olahan makanan dengan cara pembuatan keripik sukun, bolu sukun, dan produk pangan lainnya

‚ÄčKata "sukun" dalam bahasa Jawa berarti "tanpa biji" dan dipakai untuk kultivar tanpa biji pada jenis buah lainnya, seperti jambu klutuk dan durian. "Moyangnya" yang berbiji (dan karenanya dianggap setengah liar) dikenal sebagai timbul, kulur (bahasa Sunda), atau kluwih (bahasa Jawa), kulu (bahasa Aceh), kalawi (Minang). Di daerah Pasifik, kulur dan sukun menjadi sumber karbohidrat penting. Di sana dikenal dengan berbagai nama, seperti kuru, ulu, atau uru. Nama ilmiahnya adalah  Artocarpus altilis.

Kerajaan

Plantae

Filum

Magnoliophyta

Kelas

Magnoliopsida

Ordo

Rosales

Famili

Moraceae

Genus

Artocarpus

Spesies

Artocarpus Altilis

 

Sukun dapat menghasilkan buah hingga 200 buah per pohon per tahun. Masing-masing buah beratnya antara 400-1200 gr, namun ada pula varietas yang buahnya mencapai 5 kg. Nilai energinya antara 470-670 kJ per 100 gram. Tidak mengherankan bila sukun menarik minat para penjelajah Barat, yang kemudian mengimpor tanaman ini dari Tahiti ke Amerika tropis (Karibia) pada sekitar akhir 1780-an untuk menghasilkan makanan murah bagi para budak di sana.

Berdasarkan studi literatur bioplastik dari bahan alami memiliki kelebihan dibanding plastik yang berasal dari bahan polimer yang sintetis. Diantaranya bioplastik memiliki waktu degradasi yang relatif singkat antara 8-12 minggu, sedangkan plastik dari bahan sintetis memiliki waktu degradasi puluhan tahun. Bioplastik tidak melepaskan zat yang bersifat karsinogenik karena berbahan dasar pati, sedangkan jika plastik untuk kode 1,2,3,4,6,7 dapat melepaskan zat kimia yang bersifat karsinogenik. Bioplastik tidak memberikan efek samping terhadap lingkungan karena bahan bakunya merupakan komponen organik yang mudah terurai.(DP)

 

Sumber Prof. Dr. H. Zulkarnain. 2013. Budidaya Sayuran Tropis. Jakarta: Bumi Aksara, Bagian Biokimia FKUI. 2013. Biokimia Eksperimen Laboratorium. Jakarta: Widya Cendekia, Drs. Mulyono HAM. 2006. Membuat Reagen Kimia. Jakarta: Bumi Aksara