Suka Duka Peneliti

Tak dapat dipungkiri, peneliti menjadi salah satu faktor penentu perkembangan peradaban manusia. Hasil penemuan di berbagai bidang yang memudahkan kehidupan manusia merupakan bukti nyata betapa penting dan signifikannya profesi peneliti. Lalu bagaimanakah sebenarnya profesi peneliti itu?

Menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), peneliti adalah:

“insan yang memiliki kepakaran yang diakui dalam suatu bidang keilmuan yang bertugas melakukan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.”

Dari definisi tersebut, seorang peneliti memang harus benar-benar memiliki pengetahuan mendalam dalam suatu bidang keilmuan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa seorang peneliti harus terus meningkatkan ilmu dan pengetahuannya dalam bidang keilmuan yang dia tekuni. Hal ini tentu saja untuk menunjang penelitian yang dilakukan agar membuahkan hasil. Lalu apa saja suka duka menjadi seorang peneliti?

                Terbatasnya sarana dan prasarana menjadi salah satu ‘duka’ bagi peneliti. Hal ini tentu saja karena menghambat proses penelitian yang sedang dilakukan. Meskipun demikian, masih ada solusi yang bisa ditempuh, seperti yang sempat dilontarkan Dr. Ratih Asmananingrum, seorang peneliti LIPI yang pernah meraih penghargaan L’oreal – UNESCO For Women in Science 2013, beliau mengatakan, “Memang, ketika melakukan penelitian  kita bisa saja menemukan kesulitan atau keterbatasan. Soal ketersediaan alat, misalnya. Di LIPI, alat-alat penelitian cukup memadai hanya di tahap awal. Ketika penelitian harus mencapai tahap akhir, alat-alatnya kurang mendukung. Makanya, penelitian tahap akhir biasanya diselesaikan dengan cara bekerja sama dengan instansi lain yang memiliki alat-alat lebih lengkap. Kendala ini harus dihadapi dengan pikiran terbuka.”

                Di sisi lain, rasa kebermanfaatan atas hasil penelitian merupakan suka yang menjadi salah satu tujuan utama seorang peneliti. Rasa inilah yang menimbulkan kebahagiaan dan kebanggaan bagi seorang peneliti. Hal ini dengan sangat jelas dirasakan oleh asisten manajer penelti di PT Dexa Medica, Olivia Mayasari Tandrasasmita, yang juga pernah menjadi finalis kompetisi wanita karir Femina 2016. “Sebagai peneliti, ada kebanggaan tersendiri ketika penelitian kita bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh orang lain. Seperti ketika hasil penelitian saya, inlacin (obat diabetes) diluncurkan di pasaran. Waktu lima tahun saya habiskan untuk meneliti obat ini, terbayar ketika obat tersebut dijadikan rekomendasi utama para dokter spesialis kandungan untuk terapi pasien dengan polycytic ovary syndrome” ujarnya seperti dikutip LIPI.

Sumber:

lipi.go.id

media.neliti.com

Kamu suka dengan konten akutahu.com? Berikan dua jempol sebagai tanda kamu menyukai konten ini.

Beritahu cuan reaksi kamu setelah membaca konten ini.

like
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0