Sejarah Pramuka Indonesia

Jakarta – 14 Agustus adalah hari yang dirayakan oleh segenap keluarga besar pramuka di Indonesia. Pramuka telah menjadi bagian penting dalam kehidupan berbagai pelajar Indonesia dari SD hingga kuliah. Tidak banyak yang mengetahui kalau pramuka bukanlah istilah asli untuk menggambarkan gerakan kepanduan ini

Gerakan ini adalah mahakarya dari pensiunan militer Inggis, Lord Robert Baden-Powell. Baden-Powell adalah mantan Letnan Jenderal di Angkatan Darat Inggris yang punya pengalaman di berbagai operasi militer di Afrika. Pulang dari operasi militer ia menulis buku Aids to Scouting, sebuah buku mengenai panduan bagaimana bertahan hidup di alam liar untuk para perwira muda militer Inggris. Akan tetapi, buku ini ternyata justru laris di kalangan umum. Hal ini membuat Baden-Powell merilis ulang buku ini dan mengganti judulnya menjadi Scouting for Boys untuk kalangan umum.

Sejarah Pramuka di Indonesia

Setelah Pramuka menjadi tren di anak-anak muda Inggris, pamornya menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke Hindia-Belanda, nama Indonesia sebelum merdeka. Pada masa itu, gerakan kepanduan ini dikenal dengan nama Belandanya, Padvinderij atau Padvinder atau secara literal disebut pencari jalan. Pemerintah Hindia Belanda pun juga membentuk Nederland Indischie Padvinders Vereeniging (NIPV) atau Persatuan Pandu-Pandu Hindia-Belanda.

Sayangnya, NIPV hanya bisa dimasuki orang Belanda. Ketika orang pribumi ingin merasakan euforia itu, mereka tidak bisa masuk NIPV. Akhirnya, para pribumi mendirikan organisasi-organisasi kepanduan mereka masing-masing berdasarkan golongan dimana mereka bernaung seperti Jong Java Padvinderij bagi Jong Java, Hizbul Wathan bagi Muhammadiyah, dan Sarikat Islam Afdeling Padverij bagi kelompok Sarekat Islam.

Semakin banyak kelompok yang membuat gerakan kepanduannya, membuat mereka akhirnya membuat persatuan gerakan kepanduan pribumi pertama di Indonesia. Persatuan itu diberi nama Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) pada tahun 1930. Setahun kemudian KBI berubah nama menjadi Persatuan Antar Pandu-pandu Indonesia (PAPI). Pergantian nama itu tidak berhenti di PAPI. Tahun 1938, persatuan kepanduan ini berubah nama lagi menjadi Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI).

Akan tetapi, BPPKI berumur pendek. Pada masa pendudukan Jepang pada periode 1941-1945, semua organisasi pribumi yang masuk organisasi yang didirikan Jepang. BPPKIpun dibubarkan pada masa Jepang. Para anggotanya dimasukkan ke Seinendan dan PETA.

Kepanduan baru hidup kembali setelah masa kemerdekaan. Pada 28 Desember 1945, Pandu Rakyat Indonesia (PARI) berdiri. PARI sempat menjadi satu-satunya organisasi kepanduan yang ada di Indonesia sebelum muncul berbagai organisasi kepanduan lain. Ketika organisasi-organisasi kepanduan lain muncul, semua organisasi itu disatukan dalam tubuh satu federasi yaitu, Persatuan Kepanduan Indonesia (Perkindo) pada tahun 1951. Lagi, Perkindo tidak berumur panjang. 10 tahun kemudian, Presiden Soekarno membubarkan Perkindo.

Lewat Keputusan Presiden No. 238 Tahun 1961, keberadaan Perkindo digantikan oleh organisasi bernama Gerakan Praja Muda Karana atau yang biasa disebut Gerakan Pramuka. Ini adalah asal-usul nama dari Pramuka. Gerakan ini diketuai oleh Sultan Yogyakarta sekaligus Wakil Presiden Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Beberapa sumber menyatakan kalau istilah pramuka, selain singkatan dari nama organisasi ini, dicetuskan oleh Sultan Hamengku Buwono yang memperkenalkan istilah Paramuko atau dalam Bahasa Jawa berarti pasukan yang berdiri paling depan. Hingga saat ini, hari saat Gerakan Pramuka didirikan, 14 Agustus menjadi hari jadi Pramuka, sebuah evolusi nama dari gerakan kepanduan di Indonesia.