• A PHP Error was encountered

    Severity: Notice

    Message: Undefined variable: rss_hide

    Filename: partials/_social_media_links.php

    Line Number: 45

    Backtrace:

    File: /home/isnaenirikki/public_html/application/views/partials/_social_media_links.php
    Line: 45
    Function: _error_handler

    File: /home/isnaenirikki/public_html/application/views/partials/_header.php
    Line: 770
    Function: view

    File: /home/isnaenirikki/public_html/application/controllers/Home.php
    Line: 168
    Function: view

    File: /home/isnaenirikki/public_html/index.php
    Line: 315
    Function: require_once

Risiko Penularan Demam Berdarah

Aedes Aegepty merupakan merupakan vektor utama penyakit demam berdarah. Penyebarannya sangat luas, hampir semua daerah tropis di seluruh dunia. Penyebab penyakit deman berdarah ialah virus dengue, terdapat empat serotipe dari virus dengue, yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4, yang semuanya dapat menyebabkan DBD. Virus ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegepty. Penyakit demam berdarah utamanya menyerang anak-anak termasuk bayi, walaupun saat ini penderita dewasa meningkat. Nyamuk Aedes aegepty memiliki 2 habitat yakni aquatic (untuk fase pendewasaan) dan darat (untuk nyamuk dewasa).

Nyamuk Aedes agepty mengalami metamorfosis sempurna, dimulai dari telur, jentik, kepompong, lalu nyamuk dewasa. stadium telur dan jentik hidup di dalam air. Telur akan menetas menjadi larva dalam kurun waktu umumnya 2 hari setelah telur terendam air. Nyamuk betina sekali bertelur dapat mengeluarkan telur sebanyak 100 butir dan meletakkan telurnya di dinding wadah di atas permukaan air, kemudian dilanjutkan dengan stadium jentik yang berlangsung 6-8 hari. Jadi, total fase aquatic pada umunya berlangsung selama 8-12 hari. Stadium kepompong atau pupa berlangsung selama 2-4 hari setelah fase aquatic. Metamorfosis nyamuk Aedes Aegepty sampai menjadi nyamuk dewasa berlangsung selama 10-14 hari. Aktifitas nyamuk Aedes Aegepty pada temperature dibawah 17°C. akan inaktif untuk menghisap darah. Kelembaban optimum bagi kehidupan Aedes aegypti adalah 80% dan suhu udara optimum antara 28-29°C. sehingga, untuk daerah yang beriklim dingin, Aedes Agepty tidak aktif menggigit. Aedes aegepty mengigit pada pagi, siang dan sore hari (Soegijanto, 2002).

Demam Berdarah Dengue banyak ditemukan di daerah tropis dan sub-tropis. Data dari seluruh dunia menunjukkan Asia menempati urutan pertama dalam jumlah penderita DBD setiap tahunnya. Infeksi virus dengue tersebar di 128 negara dan penduduk yang berisiko terkena virus ini mencapai 3,97 milyar orang di seluruh dunia. Estimasi kasus infeksi baru mencapai 390 - 400 juta jiwa per tahun, dan 96 juta diantaranya muncul dengan berbagai manifestasi penyakit (Brady, 2012; Bhatt, 2013). Sementara itu, terhitung sejak tahun 1968 hingga tahun 2009, World Health Organization (WHO) mencatat negara Indonesia sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara. Pada Tahun 2009, provinsi dengan angka kematian (AK) tertinggi berturut-turut adalah Bangka Belitung (4,58%), Bengkulu (3,08%) dan Gorontalo (2,2%) sedangkan AK yang paling rendah adalah Sulawesi Barat (0%), DKI Jakarta (0,11%) dan Bali (0,15%). AK nasional telah berhasil mencapai target di bawah 1%, namun sebagian besar provinsi (61,3%) mempunyai AK yang masih tinggi di atas 1%) (Departemen Kesehatan, 2009).

Penyebaran virus tersebut tentu disebabkan oleh vektor dengue yakni nyamuk Aedes Aegepty.Situasi terkini populasi dan habitat vektor dengue merupakan informasi penting dalam pengembangan strategi pencegahan dengue. Strategi ini mengandalkan program pengendalian vektor yang difokuskan pada upaya pengurangan sumber larva Aedes Aegypti. Namun, upaya yang telah dilakukan kurang efektif karena keterbatasan pengetahuan dan sikap masyarakat yang tidak mendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 34,8% warga masyarakat masih berpengetahuan rendah terkait dengan masalah pemberantasan vektor dan 46,7% memiliki sikap yang tidak mendukung terhadap upaya pemberantasan sarang nyamuk (Nuryanti, 2013). Saat ini masyarakat Indonesia cenderung menggunakan bahan kimia untuk mengendalikan penyebaran vektor Dengue penyebab demam berdarah. Namun, hal ini dinyatakan tidak efektif lagi karena nyamuk Aedes Aegypti sudah resisten pada beberapa senyawa kimia tertentu. Data terbaru menunjukkan bahwa Aedes aegypti telah resisten terhadap 2 senyawa kimia yakni Malathion-0,8% dan Sipermetrin-0,05% (Ikawati, 2015).

Sumber : Riset Kesehatan Dasar 2013, NMSJ journal

Gambar : medkes.com