Rentan Covid-19, Penyandang Diabetes Harus Rajin Kontrol Gula

Kasus positif dan meninggal akibat Covid-19 banyak menimpa penyandang diabetes. Penyandang diabetes disarankan tetap menjaga kadar gula darah dalam rentang normal. Pengobatan bagi penyandang harus berjalan, terutama di masa pandemi.

Kemenkes RI (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia), menyatakan diabetes merupakan penyakit penyerta dari kasus positif dan meninggal Covid-19 tertinggi kedua setelah hipertensi. Sebab itu, penting bagi penyandang diabetes untuk rajin mengontrol kesehatannya guna meminimalisir risiko kematian akibat Covid-19.

“Apabila seorang penyandang diabetes terpapar virus Covid-19, mereka berpotensi besar mengalami tingkat keparahan yang lebih tinggi. Hal ini karena fluktuasi level gula darah dan kemungkinan adanya kompilasi lainnya,” jelas dr. Roy Panusunan Sibarani, SpPD-KEMD, FES; Endokrin melalui siaran pers yang diterima oleh AKUTAHU, Rabu (5/8/2020).

Penyandang diabetes disarankan lebih waspada dan disiplin dalam menjaga kadar gula darahnya. Pengobatan dan konsultasi dengan dokter pun harus terus berjalan. Datang ke rumah sakit diperbolehkan, selama mematuhi protokol kesehatan.

Jangan takut ke rumah sakit

Menurut hasil survei MarkPlus Industry Roundtable, masyarakat semakin takut mengunjungi rumah sakit sejak pandemi. 71,8% responden mengungkapkan tidak lagi mengunjungi rumah sakit atau klinik sebab khawatir terpapar Covid-19.

“Walaupun di masa pandemi Covid-19, pengobatan harus tetap berjalan seperti biasa. Penyandang diabetes tidak perlu takut pergi ke puskesmas atau rumah sakit untuk berobat atau berkonsultasi dengan dokter,” pungkas Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta dr. Widyastuti.

Ia menambahkan, masyarakat dapat menerapkan gerakan yang diusung oleh Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Gerakan 3M, yakni memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.

Osy, salah seorang penyandang diabetes mengungkapkan, selama masa pandemi Covid-19 ada perasaan ragu untuk mengunjungi puskesmas atau rumah sakit. Namun, baginya mengontrol kesehatan termasuk kadar gula darahnya serta mengonsultasikan hal tersebut ke dokter merupakan suatu keharusan.

“Apabila kami (penyandang diabetes) terinfeksi Covid-19 dan keadaan gula darah tidak terkontrol, Covid-19 akan menjadi lebih berat. Selain itu, risiko komplikasi terus membayangi apabila mengabaikan konsultasi dan kontrol gula darah dengan dokter. Maka dari itu, saya tetap ke rumah sakit, tentunya mematuhi protokol yang berlaku,” jelasnya.

Kurva diabetes di wilayah perkotaan saat ini masih tinggi. Dinas Kesehatan DKI Jakarta bersama perusahaan kesehatan global yang spesifik menangani pengobatan diabetes Novo Nordisk bekerja sama dalam upaya membengkokkan kurva diabetes terutama di wilayah perkotaan. Salah satu langkah yang dilakukan dengan terus menyosialisasikan gerakan 3M sebagai protokol kesehatan mandiri untuk masyarakat. (ARF)