Pola Pikir Orang Indonesia Sebabkan Obesitas dan Diabetes

Jakarta - Obesitas atau berat badan berlebih merupakan masalah kesehatan yang sering kali luput dari perhatian masyarakat. Data di Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi obesitas pada usia dewasa di atas 18 tahun meningkat dua kali lipat dari 20.5% di tahun 2007 menjadi 21.8% di tahun 2018. Pada balita, obesitas atau kegemukan pada tahun 2018 mencapat 8%.

Penyebab utama terjadinya obesitas adalah gaya hidup yang tidak sehat, terutama di kota besar. Tingginya konsumsi makanan tinggi kalori dan rendahnya aktifitas fisik, menjadi penyebab utama meningkatnya angka kejadian obesitas. Padahal, seseorang dengan berat badan berlebih berisiko tinggi mengalami penyakit metabolik sepeti diabetes.

Obesitas dan diabetes dapat menyebabkan komplikasi penyakit yang lebih serius seperti penyakit ginjal, penyakit jantung koroner, stroke dan gangguan penglihatan. Oleh karena itu, obesitas harus dicegah dengan gaya hidup sehat dan rutin berolah raga. Hingga kini, angka penderita diabetes masih terus meningkat. Masyarakat belum sepenuhnya sadar bahaya yang mengintai jika seseorang mengalami obesitas. Berbagai penyuluhan kesehatan terkait obesitas dan diabetes pun telah banyak dilakukan. Namun, kesadaran masyarakat akan pentingnya gaya hidup sehat dan aktivitas fisik, masih belum maksimal.

Dalam seminar Masalah Obesitas dan Diabetes yang diadakan di Gedung Imeri FKUI, Jakarta, hari ini, Rabu (10/04/2019), menurut Dr. Aman Pulungan, Peringkat Indonesia dalam jumlah penderita obesitas selalu meningkat. Jumlah penderita diabetes pada usia diatas 18 tahun di Indonesia dua kali lipat dari tahun 2007.

Menurut Aman ada yang salah dari pola pikir masyarakat Indonesia. "Masyarakat kita masih berpikir makan untuk kenyang terlebih dahulu" kata Aman. 

Uniknya konsumsi junk food di Indonesia datang dari kelompok menengah keatas. Hal ini berbeda dengan fenomena konsumsi junk food di Amerika yang mayoritas konsumennya adalah kelompok dengan status sosial-ekonomi menengah kebawah karena terbatasnya informasi dan sumber daya finansial. 

Bagi Aman pola pikir dan gaya hidup seperti ini wajib diubah. Orangtua harus peduli dengan kesehatan anak. Orangtua harus tahu tanda-tanda anak obesitas dan menjaga gaya hidup anak seperti tidur cukup dan memilih menu untuk anak.

Reporter: Raihan Sujatmoko

Foto: Yuweng