Cegah Kerusakan Alam, Penghijauan Kembali di Gunung Mangkol

Sungguh menyedihkan, Gunung Mangkol di Kepualauan Bangka Belitung sudah terlihat semakin gundul, tak lagi hijau. Bahkan, cenderung tidak dipedulikan. Padahal, kondisi alam Gunung Mangkol sebenarnya sangat memberikan dampak kepada situasi banjir di kota Pangkalpinang, ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Prihatin dengan kondisi itu, beberapa orang melakukan penghijauan di Gunung Mangkol, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, baru-baru ini.

“Alam tidak butuh kita, tapi kita butuh alam”. Kira-kira begitulah petikan metafora yang disampaikan Agus Cik saat memberikan kesan dan pesannya menjadi peserta kegiatan.

Agus Cik merupakan salah satu dari 120 volunteer dalam kegiatan penghijauan di Gunung Mangkol. Ia bersama empat orang temannya merupakan perwakilan dari Komunitas Aksi Baik Babel yang diundang oleh panitia penyelenggara bersama dengan puluhan komunitas lainnya dari berbagai daerah.

Acara ini sendiri diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Yayasan Mangkol Lestari.

​Dalam 2 tahun belakangan ini, sudah dilaksanakan 4x penanaman di beberapa titik. Serunya lagi, setiap kegiatan penanaman juga disertai dengan pelepasan burung.

Ahmadi Sopyan, wakil ketua acara Penghijauan di Gunung Mangkol menyampaikan, "pembibitan di Gunung Mangkol sebenarnya selalu dilakukan setiap saat. Sedangkan penghijauan dilaksanakan pada setiap musim penghujan seperti sekarang ini. Dalam musim penghujan, dilakukan penghijauan setiap bulan dengan target 25.000 bibit pohon tertanam dikawasan Mangkol. Jenis-jenis pohon yang ditanam adalah pohon Nyatoh, Durian, Ketapang Kencana, dan Pelawan."

“Kami tidak bermimpi, tapi kami membuat kenyataan (nyata), yakni menghijaukan Mangkol dan masyarakat menikmati dari keasrian Mangkol tersebut serta Pangkalpinang dan Bangka Tengah bebas dari bencana banjir”, ujar Ahmadi Sopyan ketika ditanyakan tentang mimpi yang dimiliki dari penyelenggaraan kegiatan ini.

Ahmadi juga berpesan kepada masyarakat sekitar dan organisasi kemasyarakatan dan pemuda agar lebih peduli lagi kepada kondisi alam di Gunung Mangkol. “Karena Mangkol milik masyarakat, sehingga semua wajib peduli dan menjaganya”. (DP)

 

Sumber: Agus Cik (Aksi Baik Babel), Ahmadi Sofyan (Yayasan Mangkol Lestari), Aksi Baik Babel

Foto: Elisya F. (Aksi Baik Babel)