Pendidikan Berkualitas Demi Kemajuan Indonesian

Pada 25 September 2015, bertempat di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New Yorl, Amerika Serikat, para pemimpin dunia secara resmi mengesahkan Agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) sebagai kesepakatan pembangunan global.

Dengan mengusung tema “Mengubah Dunia Kita: Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan”, SDGs yang berisi 17 Tujuan dan 169 Target merupakan rencana aksi global untuk 15 tahun ke depan (berlaku sejak 2016 hingga 2030), guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan. SDGs berlaku bagi seluruh negara (universal), sehingga seluruh negara tanpa terkecuali negara maju memiliki kewajiban moral untuk mencapai tujuan dan target SDGs. Lalu, “Kontribusi apa yang dapat dilakukan oleh Pemuda?”.

“Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat merubah dunia.”

Begitulah kutipan Soekarno sebagai seorang penyambung lidah masyarakat Indonesia. Sejalan dengan pernyataan tersebut, tampaknya kita pun percaya jika nasib bangsa ini yang akan datang berada di pundak generasi muda. Karena pada dasarnya semua pemuda di Indonesia merupakan harta bangsa yang harus dibina dengan segala bentuk pendidikan, baik pendidikan formal dan informal. Berdasarkan hal tersebut dapat diamati jika pendidikan juga merupakan suatu faktor penting sebagai pencetak pemimpin muda Indonesia yang unggul dan berkualitas. Melalui pendidikan generasi muda dididik sekaligus dibentuk menjadi seorang pemimpin, maka dari itu jangan sampai pendidikan yang sudah dirancang dan dilaksanakan oleh negara mengesampingkan masa depan pemudanya.

Pendidikan yang berkualitas merupakan kunci utama dalam kemajuan bangsa. Untuk itu, perlu strategi yang kuat untuk membangun sebuah pendidikan yang berkualitas. Seperti dibentuknya suatu badan yang bertugas menyusun strategi dan mengawasi pelaksanaan program pendidikan yang diterapkan. Kemudian menekan biaya pendidikan agar seluruh warga dapat merasakan pendidikan serta memiliki sistem pendidikan yang matang dan seimbang. Peranan pendidikan sangat besar bagi kemajuan suatu bangsa dan negara di dunia ini. Untuk mencapai kemajuan bagi suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan bangsa itu sendiri. Keterbelakangan pendidikan suatu bangsa seringkali menjadi hambatan serius dalam proses pembangunan bangsa. Peranan pendidikan bukan hanya berkutat pada persoalan ekonomi saja, melainkan pendidikan yang terintegrasi dengan nilai-nilai moral akan mampu membentuk sumber daya manusia yang unggul dengan tetap memiliki harkat dan martabat sebagai manusia yang berbudaya.

Dari paparan diatas maka banyak hal yang perlu diperbaiki maupun dikembangkan demi terciptanya pemuda yang unggul, Gagasan “Cerdas Bersama Masyarakat” salah satu bentuk solusi yang penulis coba berikan, meliputi :

SISTEM BELAJAR

Sistem Belajar di Indonesia yang masih menerapkan pola pikir kolonialis, yang mana peserta didik harus patuh dan turut terhadap guru nya, yang masih tersimpan sampai sekarang adalah budaya “ 3D, Duduk Diam Dengar ”, yaitu suatu bentuk pembelajaran dimana peserta didik hanya duduk diam sambil melipat tangan dan hanya mendengarkan sang guru memberi pelajaran secara lisan. Sehingga Kebebasan dalam berpikir dan bertindak pun terbatas.

Menurut American Physichology Society (APS) manusia akan menyerap pelajaran sebesar 10 % Jika Membaca, 20% jika Mendengarkan, 30% jika dilihat, 70% jika dikatakan, 80% jika dilakukan/dieksperimenkan dan 90% jika Mengajarkan. Jadi disini solusi untuk budaya belajar seperti itu adalah dengan menerapkan Metode pembelajaran CL (Collaborative Learning) dan PBL (Problem Based Learning) pada Sekolah Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas. Metode CL dan PBL biasanya digunakan pada tingkat perguruan tinggi, sehingga peserta didikpun seakan akan “terlambat” untuk menerima sistem belajar tersebut.

Collaborative Learning (CL) merupakan sistem belajar yang menggunakan prinsip berkelompok, yaitu dimana peserta didik dalam satu kelas akan dibagi kedalam 6 kelompok (anggap 1 kelas ada 30 orang) yang dalam satu kelompoknya terdiri dari 5 orang yang dibagi ke dalam Focus Group (FG), lalu dari FG ini dibagi tugasnya masing-masing yaitu 1 kelompok diberi 1 buku bacaan yang masing-masing FG akan mendapat 1 bab, didalam FG ini  masing-masing anggota akan membagi topik didalam bab tersebut, setelah membaginya maka mereka akan membaca bagian-bagiannya, lalu mereka akan mendiskusikannya secara bersama-sama di FG. Setelah itu mereka dibagi lagi ke dalam Home Group (HG), HG ini merupakan 5 kelompok yang berisikan 6 orang dari masing-masing FG yang berbeda, yang tugasnya adalah mempresentasikan hasil diskusi di FG tadi. Sehingga buku yang Tebalnya 1000 Halamanpun dapat diselesaikan dalam 2 jam pelajaran dengan metode ini, sehingga proses pembelajaran semakin efektif.

Problem Based Learning (PBL) merupakan sistem belajar yang memberikan sebuah kasus ke peserta didik, lalu mereka diminta menganalisis penyebab masalahnya beserta solusinya, sehingga peserta didik dapat berfikir sistematis, analitis dan kritis. PBL dimulai dengan memberikan sebuah masalah kepada peserta didik (bisa individu maupun berkelompok) dan mereka diminta untuk menganalisis penyebab masalahnya lalu merumuskan solusinya, sehingga mereka terbiasa berfikir sistematis, analitis dan kritis.       

            Selain dari pada gagasan dalam perbaikan sistim belajar penulis juga ingin memberikan solusi dengan membuat program lainnya melalui kontribusi pemuda dan civitas akademika yaitu :

REGUSARI (Relawan Guru Satu Hari) program yang dapat dijadikan sebagai sarana peningkatan kualitas pendidikan pada masyarakat oleh generasi muda melalui program ini kita dapat berkolaborasi bersama semua golongan intelektual baik mahasiswa maupun tenaga pengajar untuk menjadi relawan pada desa yang kualitas pendidikan masyarakatnya rendah.

RUMPI (Rumah Mimpi) program yang dapat dijadikan sebagai sarana peningkatan pola pikir dan pemahaman kepada anak – anak di desa sehingga mereka dapat memiliki tujuan hidupnya melalui mimpi mereka dan juga dapat mengasah kreativitas mereka untuk menjadi generasi muda yang unggul dengan konsep menyediakan sebuah wadah bermain dan juga belajar kepada anak-anak di pedesaan.

Jangan memandang rendah diri untuk memperoleh sesuatu, namun merendahkan hati untuk memberikan sesuatu. Saya bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa Anda lakukan. Anda pun bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa saya kerjakan. Bersama-sama, kita dapat melakukan hal-hal yang hebat. Sesuatu yang besar adalah gabungan dari hal-hal kecil yang dikerjakan bersama-sama.