• A PHP Error was encountered

    Severity: Notice

    Message: Undefined variable: rss_hide

    Filename: partials/_social_media_links.php

    Line Number: 45

    Backtrace:

    File: /home/isnaenirikki/public_html/application/views/partials/_social_media_links.php
    Line: 45
    Function: _error_handler

    File: /home/isnaenirikki/public_html/application/views/partials/_header.php
    Line: 770
    Function: view

    File: /home/isnaenirikki/public_html/application/controllers/Home.php
    Line: 164
    Function: view

    File: /home/isnaenirikki/public_html/index.php
    Line: 315
    Function: require_once

Pestisida Nabati Sampah Cabai dan Tembakau untuk Lingkungan yang Baik

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan salah satu daerah sentra produksi komoditas pertanian di Indonesia. Provinsi NTB menghasilkan produksi beras yang sangat tinggi, baik berasal dari padi sawah maupun ladang. Tahun 2015 padi sawah mampu memproduksi beras sebanyak 1.904.110,4 ton dan padi ladang sebanyak 212.526,5 ton (Provinsi Nusa Tenggara Barat Dalam Angka, 2016). Desa Mambalan adalah salah satu desa yang berperan dalam membantu produksi beras NTB dalam swasembada beras.

Desa ini memiliki kesuburan tanah yang baik sehingga cocok untuk melakukan kegiatan bercocok tanam. Luas areal persawahan 86,30 ha dan jumlah penduduk yang bekerja sebagai petani berjumlah 133 orang laki-laki dan 9 orang perempuan dengan sebagian besar merupakan petani padi (profil desa Mambalan, 2010).

Pestisida kimia sintetik saat ini masih merupakan jaminan keberhasilan bertani bagi sebagian besar petani di Indonesia. Petani sudah sangat bergantung kepada pestisida kimia sintetik. Namun disisi lain efek residu dari penggunaan pestisida dapat mencemari tanah disertai dengan matinya beberapa mikroorganisme perombak tanah, mematikan serangga dan binatang lain yang bermanfaat, sehingga terputusnya mata rantai makanan bagi hewan pemakan serangga.

Efek negatif yang berkepanjangan pada suatu areal pertanian, akan menurunkan produktivitas lahan. Residu yang tertinggal pada tanaman akan meracuni manusia bila terkonsumsi, yang akhirnya akan menimbulkan gejala.berbagai macam penyakit. Tujuan semula untuk meningkatkan produktivitas, justru menjadi bomerang bagi kehidupan manusia (Irfan, 2010).Sehingga perlu adanya pestisida nabati yang bersifat lebih biodegradable atau mudah terurai. Penulis menawarkan sebuah solusi yaitu PENA SAKAU (Pestisida Nabati Sampah Cabai dan Tembakau).

 

Kelebihan Pestisida Limbah Cabai dan Tembakau dalam Pengendalian Hama Burung Pipit.

Limbah cabai dan tembakau termasuk ke dalam limbah organik atau hayati. Limbah organik adalah limbah yang berasal dari sisa-sisa makhluk hidup seperti hewan dan tumbuhan. Pestisida organik bersifat biodegradable atau mudah terurai di alam sehingga tidak meninggalkan residu kimia yang berbahaya bagi tanah dan tanaman pertanian itu sendiri serta tidak mencemarkan lingkungan sekitar. Aplikasi pestisida organik pada tanaman memberikan dampak positif, yaitu menghasilkan produk organik yang saat ini sangat banyak diminta oleh pasar dalam negeri maupun luar negeri , karena banyaknya penyakit yang ditimbulkan akibat produk pertanian yang menggunakan pestisida sintetik.

Pada ekstrak tanaman cabai, terdapat kandungan senyawa kimia yang bernama Capsicin yang memberikan rasa pedas dan mengandung minyak atsiri sebagai penolak, sehingga hama burung pipit menghindar karena tidak menyukai rasa pedas tersebut. Selain itu cabai juga mengandung, piperin dan piperidin yang berfungsi sebagai repellent dan mengganggu preferensi makan hama (Harysaksono, 2008). Kandungan inilah yang mampu menangkal hama burung pipit yang datang menjelang musim panen.

Kandungan nikotin pada tanaman tembakau memiliki sifat yang beracun dan juga sebagai penolak bagi hama burung pipit dan hama lainnya. Nikotin berperan sebagai racun kontak bagi serangga seperti: ulat perusak daun, aphids, triphs, dan pengendali jamur atau fungisida (Lulus, 2012). Ekstrak pada tembakau mengandung senyawa kimia aktif seperti terepenoid. Terpenoid bersifat sebagai penolak serangga (repellent) karena ada bau menyengat yang tidak disukai oleh serangga, sehingga serangga tidak mau makan (Fika Afifah, 2015).

Penggunaan pestisida sintetik selain bisa mencemarkan lingkungan sekitar juga dapat menciptakan hama-hama baru yang resisten terhadap pestisida sintetik tersebut sehingga pada akhirnya akan semakin sulit dalam mengendalikan hama. Oleh karena itu, penggunaan pestisida nabati merupakan solusi dalam mengendalikan hama burung pipit pada tanaman padi yang tidak berdampak negatif terhadap lingkungan sekitar, karena ramah terhadap lingkungan. Berdasarkan penjelasan tersebut di atas bahwa dalam kaitannya dengan program pemerintah, yaitu tujuan pembangunan berkelanjutan 2030, maka PENA SAKAU (Pestisida Nabati Sampah Cabai dan Tembakau) menjadi salah satu solusi dari beberapa diantara 17 pilar pembangunan tersebut, yaitu pilar nomor 3 dan 12 tentang kehidupan sehat dan sejahtera serta konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

 

Sumber :

Fika Afifah. 2015, Efektivitas Kombinasi Fitrat Daun Tembakau dan Fitrat Daun Paitan sebagai pestisida nabati hama walangsangit.Universitas Negeri Surabaya. Surabaya

Lulus Susanti, Toksisitas Biolarvasida Ekstrak Tembakau Dibandingkan Ekstrak Zodia Terhadap Jentik Vektor Demam Berdarah. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit. Salatiga

Irfan, 2010. Penggunaan Pestisida Nabati sebagai Kearifan Lokal Dalam Pengendalian Hama Tanaman Menuju Sistem Pertanian Organik. Balai Tanaman Obat dan Aromatik. Bogor

Kamu suka dengan konten akutahu.com? Berikan dua jempol sebagai tanda kamu menyukai konten ini.

Beritahu cuan reaksi kamu setelah membaca konten ini.

like
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0