Pembakaran Lahan Dilakukan Sistematis, Ini Faktanya

Pekanbaru –  Kebakaran hutan merusak lingkungan. Maraknya kebakaran  lahan yang terjadi  belakangan  ini di berbagai provinsi disebabkan proses pembakaran lahan skala besar.

Kepala  Badan  Restorasi  Gambut  (BRG)  Nazir  Foead,  kegiatan  pembakaran  lahan  tersebut dilakukan  secara  sistematis  oleh  sejumlah  pihak.  Hal  ini  diungkapkannya  kembali  usai  melakukan kegiatan lapangan untuk membantu pemadaman api di wilayah Riau, baru-baru ini

Nazir mencontohkan kebakaran lahan yang terjadi di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau belakangan ini. Berdasarkan laporan dari Kepala BPBD Riau yang melakukan patroli udara bersama Deputi BRG, diketahui pembakaran tersebut dilakukan secara sistematis.

“Apabila ini terus berlangsung, maka  makin  sulit  menghilangkan  kabut  asap.  Kita  harap  ada  penyelidikan  lebih  lanjut  dari  aparat hukum. Polda Riau telah bergerak cepat mengungkap pembakaran sistematis serupa di Pelalawan, yang disaksikan Gubernur ketika  patroli  udara minggu lalu, dengan penetapan sejumlah tersangka termasuk satu perusahaan perkebunan, kita patut apresiasi tindakan tegas ini.” ujarnya. 

Terkait  kebakaran  lahan  di  Kampar,  Riau,  Nazir  menyaksikan  kerja  MPA  binaan  Manggala  Agni, personel  Dinas  LHK  Riau,  TNI  dan  Polri  melakukan  pemadaman.  Sumber  air  dari  kanal  masih  ada walau tidak melimpah. Diperlukan sumur bor dibangun di tempat dimana air dari kanal sudah terlalu jauh untuk mencapai api.  

Beruntung, tambah Nazir, anggota kelompok masyarakat (pokmas) setempat sudah difasilitasi BRG dan  Pemprov  untuk  membuat  sumur  bor.  Dibutuhkan  3-4  jam  untuk  mencapai  air  tanah  di kedalaman 20 m. Dengan air yang cukup berlimpah dari sumur dan bisa dipompa utk memadamkan hingga radius 200 meter, dan sumur bor kedua akan dibuat 200 meter dari sumur pertama sehingga api bisa terkepung.

"Saya menyaksikan semprotan air masih sangat kuat di jarak 180 m dari sumur, dan pembasahan gambut dapat berjalan dengan cukup efektif," ungkapnya.   Khusus  untuk  wilayah  Tapung,  Kampar  yang  sedang  dikunjunginya,  Nazir  mengungkapkan  akan membangun  50  sumur  bor  untuk  mengantisipasi  kebakaran  ke  depan.  Sebagian  wilayah  tersebut berupa  semak  belukar,  nantinya  akan  dikelola  masyarakat  menjadi  kebun  nanas.  “Sehingga masyarakat bisa menjaga area tersebut dan mencegah kebakaran di saat kemarau,” pungkasnya.