• A PHP Error was encountered

    Severity: Notice

    Message: Undefined variable: rss_hide

    Filename: partials/_social_media_links.php

    Line Number: 45

    Backtrace:

    File: /home/isnaenirikki/public_html/application/views/partials/_social_media_links.php
    Line: 45
    Function: _error_handler

    File: /home/isnaenirikki/public_html/application/views/partials/_header.php
    Line: 770
    Function: view

    File: /home/isnaenirikki/public_html/application/controllers/Home.php
    Line: 164
    Function: view

    File: /home/isnaenirikki/public_html/index.php
    Line: 315
    Function: require_once

Pelaku Tindak Pidana Dibawah Umur Berhak Dapat Kesempatan Kedua

Masa depan pelaku tindak pidana di bawah umur terkadang dianggap suram. Hal itu dialami oleh Raka (nama samaran) yang pernah dipenjara.

Satu bulan menjelang kebebasannya dari penjara, Raka tampak murung. Raka menceritakan ketakutan yang menghantuinya ketika bebas nanti, seperti sikap tetangga, respon teman-teman, nasib sekolah, masa depan dsb. Meskipun saat masih berada di luar, Raka tergolong anak yang malas dengan kegiatan belajar di sekolah. Namun, sebagai anak kelas 1 SMK, Raka masih memiliki ketakutan dengan masa depannya nanti setelah keluar dari jeruji besi. “Apakah masih ada orang yang mau menerimanya bekerja suatu saat nanti?” renungnya.

Berbeda dengan Raka, Ardi (nama samaran) tampak tenang menjelang satu minggu kebebasannya. Selama berada di penjara, Ardi sudah mendengar cerita dari teman-teman yang membesuknya, mengenai berita dirinya di penjara. Untuk menghindar dari masyarakat, Ardi sudah memiliki rencana dengan Ibu dan Kakaknya untuk pindah ke luar kota. Di sana, Ardi akan membantu Ibu nya berjualan sambil menunggu tahun ajaran baru untuk melanjutkan sekolah. Hal tersebut dilakukan agar Ardi tidak tertekan dengan cibiran masyarakat yang mengenalnya.

Keresahan anak yang berada dalam penjara menjelang bebas menjadi hal yang dirasakan oleh hampir semua anak. Hal yang paling ditakutkan adalah stigma buruk di masyarakat. Stigma tersebut sangat berdampak pada psikis anak. Komisioner KPAI Bidang Trafficking Ai Maryati Solihah mengatakan, “Stigmatisasi kasus ABH (Anak Berhadapan dengan Hukum yang terdiri dari pelaku, korban dan saksi) menjadi penyumbang kekerasan psikis terhadap anak. Imbas yang paling parah dari stigmatisasi membuat anak melakukan bunuh diri”, www.kpai.go.id

Selain bunuh diri, ketidaksiapan mental anak pasca bebas berdampak pada pengulangan tindak kriminalitas yang mengakibatkan dirinya kembalinya menjalani pembinaan di Lapas atau yang disebut residivis. Penelitian menyebutkan, penyelenggaraan program pendidikan keterampilan di Lembaga Pemasyarakatan hanya memberikan kontribusi 44.7% terhadap kesiapan mental narapidana kembali ke masyarakat, journal.unnes.ac.id, Adetyo Artyawan.

Sahabat Kapas yang bermarkas di Karanganyar, Jawa Tengah, menjadi salah satu lembaga yang memiliki komitmen untuk mendampingi dan memberdayakan anak-anak di penjara. Sejak tahun 2009 berdiri hingga kini, Sahabat Kapas telah mendampingi lebih dari 500 klien anak yang tersebar di 4 penjara di Jawa Tengah. Kegiatan yang diberikan diantaranya pendampingan konseling, pengembangan diri dan keterampilan. Konseling menjadi kegiatan yang utama karena pada dasarnya perubahan perilaku anak yang harus diubah terlebih dahulu. Tujuannya, agar setelah bebas, anak memiliki perubahan perilaku dan lebih siap menjalani kehidupannya. Terlebih ketika bebas, stigma buruk pada anak akan melekat di masyarakat.

Bukan hanya kegiatan bagi anak yang berada di dalam penjara. Sahabat Kapas juga mengadakan program reintegrasi berupa pemberdayaan anak pasca bebas melalui kegiatan wirausaha. Hal ini dilakukan untuk menjawab keresahan anak tentang pekerjaan pasca bebas. Kegiatan pemberdayaan ini dimulai sejak 2018 dengan berdirinya #PawonOnJail yang memproduksi sirup jahe dan kopi (coming soon).

Dengan dimentori oleh tim dari Sahabat Kapas, anak diajarkan untuk membuat sirup jahe. Setelah melalui berbagai kegagalan dalam memproduksi sirup jahe, kini anak telah mampu memproduksi sirup jahe secara mandiri. Sirup jahe dengan merek #OnJahe diproduksi di Kota Solo dan dijual secara online melalui social media. Pemasaran dan pengelolaan keuangan dikelola oleh Sahabat Kapas. Keuntungan diperuntukan untuk anak yang menjalankan usaha dan kembalinya modal akan digunakan untuk membuat usaha serupa bagi anak lainnya.

Tentu Sahabat Kapas tidak bekerja sendiri. Sinergi diperlukan untuk memperkuat jaringan, pengalaman dan pengetahuan. Sahabat Kapas bekerjasama dengan Studi Kopi Ndaleme Eyang dan Studio Kopi Sang Akar. Di Studio Kopi, anak diajarkan untuk membuat kopi. Nantinya setelah dirasa sudah mumpuni, Sahabat Kapas akan memfasilitasi berdirinya Gerobak Kopi.

Tentu tidak semua anak bisa mengikuti kegiatan ini karena keterbatasan yang ada seperti anggaran dan mentor. Dimulai dengan 3 anak terpilih yang memiliki komitmen untuk menjadi lebih baik, kemauan belajar dan berwirausaha. Diharapkan nantinya, anak yang telah memiliki bekal berwirausaha dapat membantu teman lainnya yang juga memiliki masa lalu serupa.

Meskipun telah bebas, anak yang terlibat dalam kegiatan pemberdayaan Sahabat Kapas masih diberikan konseling. Tujuannya untuk melihat sejauh mana anak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Anak akan terus didampingi sampai dirasa cukup mandiri dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.

 

 

sumber pernyataan:

1. http://www.kpai.go.id/berita/kpai-anak-berhadapan-hukum-rentan-alami-kekerasan-fisik

2. https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jnfc/article/view/2799

 

Sumber foto:

Produk dari sahabat kapas

Foto anak dari pengguna facebook bernama Ria Serbeje

Kamu suka dengan konten akutahu.com? Berikan dua jempol sebagai tanda kamu menyukai konten ini.

Beritahu cuan reaksi kamu setelah membaca konten ini.

like
5
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0