Miris, Jumlah Imigran Paksa Terus Meningkat

Migrasi paksa adalah suatu proses transportasi, perpindahan dan atau penempatan mengalami unsur keterpaksaan, penipuan dan atau pemaksaan baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam sebuah seminar yang digelar di Universitas Indonesia, Depok, baru-baru ini, Prof. Tri Nuke Pudjiastuti, menyebutkan, proses ini melibatkan banyak pihak termasuk penyelundup yang meminta sejumlah uang kepada para calon imigran sebagai ganti atas akses imigrasi.

"Imigran yang tidak punya pilihan mau tidak mau menjadi korban dari skema pemerasan ini. Akhirnya, mereka menjadi imigran paksa," kata Prof Nuke.

Statistik membuktikan, dari 258 Juta Migran Internasional, lebih dari 50 persennya adalah imigran paksa. Mereka berasal dari berbagai wilayah di dunia terutama di negara yang sedang terjadi konflik seperti Irak, Suriah, dan Myanmar.

"Para imigran paksa memasuki wilayah yang lebih aman seperti Amerika Serikat atau Eropa untuk menghindari konflik di negaranya. Itupun tidak semua dari mereka selamat sampai tujuan. Ada sekitar 30 ribu imigran yang dilaporkan hilang saat mereka bermigrasi paksa. Ketika mereka selamat sampai ke negara tujuan, mereka harus menghadapi kemungkinan ditolak oleh negara tujuan," Prof Nuke menambahkan.

"Jika ditolak, mereka akan diekstradisi atau jika mereka naik perahu, perahu mereka akan dilarang untuk berlabuh dan dikirim kembali ke lautan," sebutnya.

Berangkat dari penelitian ini, Nuke menekankan pentingnya masalah ini untuk diperhatikan lebih lanjut. Banyak negara masih lebih menggunakan pendekatan keamanan diatas pendekatan hak asasi manusia.

Oleh karena itu menurut Nuke, hal pertama yang harus dilakukan adalah perubahan cara pandang dari institusi internasional dalam memandang fenomena ini. Ganti istilah imigran iregular dengan imigran paksa untuk menghormati kompleksitas latar belakang dari fenomena ini.

Penulis : M. Raihan Sujatmoko