Menjadi Pribadi Yang Penuh Empati

Definisi Empati

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan Empati sebagai: “keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain”[1]. Secara akar bahasa, empati berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu ἐμπάθεια (empatheia) yang merupakan gabungan dari kata ἐν (en), “dalam, di” + πάθος (pathos), “gairah, perasaan”[2]

Empati melibatkan proses berpikir serta pemahaman yang baik. Jadi kita tidak hanya ikut merasakan kondisi emosi yang dialami oleh orang lain, namun kita juga menempatkan diri dalam kondisi emosi orang lain, menganalisa dasar permasalahan yang dihadapi, serta memilih sikap yang tepat untuk ditunjukkan. Yang paling harus kita ingat, Empati tidak sama dengan Mengasihani dan Simpati.

Empati vs Simpati

Mengasihani merupakan bentuk paling umum dari Simpati. Kata simpati juga diturunkan dari bahasa Yunani συμπάθεια (sympatheia) yang merupakan gabungan dari kata σύν (syn) “bersama” and πάθος (pathos) “gairah, perasaan”[2]. Simpati adalah cara kita untuk mengidentifikasi perasaan kita sendiri ketika bersama dengan orang lain yang sedang dalam kondisi emosi tertentu. Contohnya ketika ada orang lain yang sedang mengalami kesedihan, maka rasa Simpati yang muncul kemungkinan besar adalah rasa kasihan, dan reaksi selanjutnya adalah pernyataan bela sungkawa.

Berbeda dengan Simpati, Rasa Empati tidak akan berhenti pada rasa kasihan namun akan berlanjut dengan memposisikan diri kepada situasi emosi orang lain dan memahami hal-hal apa saja yang kiranya dibutuhkan oleh orang lain tersebut. Karena itu reaksi yang akhirnya muncul adalah keinginan untuk menemani, membawakan makanan, dan hal-hal suportif lainnya.

Meningkatkan Kualitas Empati

Setidaknya ada 3 langkah esensial yang dapat sobat latih untuk meningkatkan kualitas berempati yaitu:

1. Belajar untuk lebih melihat masalah dari sudut pandang orang lain

Dengan cara ini, sobat akan belajar untuk menghindari judging/pelabelan yang tidak tepat terhadap masalah yang dihadapi oleh orang lain. Kata kuncinya adalah: Dengarkan.

2. Menjadi Pendengar yang Baik

Dengarkanlah dengan telingamu, pastikan sobat memahami rasa apa yang ingin disampaikan oleh lawan bicaramu.

Dengarkanlah dengan matamu, kenali kesan apa saja yang sobat tangkap dari ekspresi dan bahasa tubuhnya.

Dengarkanlah dengan hatimu, kenali kesan emosi apa saja yang teman-teman rasakan secara pribadi.

3. Bersikaplah Tepat Pada Waktu, Tempat, dan Kebutuhannya.

Gunakanlah pemahaman yang telah teman-teman dapatkan setelah menjadi pendengar yang baik untuk orang lain. Ingat, di zaman modern saat ini, hanya dengan melihat postingan di instagram serta membaca twit terbarunya pun sobat sudah akan mendapatkan gambaran yang cukup banyak mengenai situasi emosional yang dihadapi oleh orang lain.

Ohh ada 1 hal yang penulis lupa sampaikan. 1 Hal ini adalah hal yang paling penting untuk sobat lakukan sebelum berempati kepada orang lain yaitu, lakukanlah semua usaha yang sobat lakukan dengan ikhlas, tanpa mengharapkan balasan apa pun dari orang lain tersebut.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk sobat semua.

Source

https://kbbi.web.id/Empatheia, Henry George Liddell, Robert Scott, A Greek-English Lexicon, at Perseus. http://www.perseus.tufts.edu

Photo:

www.mom365.com