Menembus Asa dalam Keterbatasan, Edukasi Anak Tuna Netra dari Pena

Manusia merupakan makhluk Tuhan yang paling sempurna diantara makhluk ciptaan Tuhan yang lain, seperti hewan dan tumbuhan. Hal tersebut dikarenakan manusia memiliki hawa nafsu dan akal fikiran yang sehat. Namun, tidak semua manusia diciptakan dengan kondisi fisik ataupun mental yang sempurna. Ada beberapa diantara mereka yang memiliki kekurangan seperti tidak bisa melihat atau disabilitas tunanetra.

Kabar baiknya, hadirnya komunitas PENA (Pendidikan Anak Tunanetra) adalah sebagai sarana berekspresi kaum disabilitas tunanetra. Tentu saja tujuan dari komunitas ini adalah untuk memberikan edukasi kepada anak penyandang disabilitas tunanetra agar bisa menembus asa tanpa adanya keterbatasan. Selain itu, misi yang ingin dicapai adalah mewujudkan para penyandang tunanetra sebagai generasi emas.

Dalam mencapai misi tersebut, komunitas PENA memiliki beberapa program kegiatan unggulan. Program pertama adalah PENA Indoor Learning yakni sebuah kegiatan yang memberikan edukasi kepada anak-anak penyandang disabilitas tunanetra dengan menggunakan metode pembelajaran yang sesuai. Kegiatan ini dilakukan di dalam ruangan atau kelas khusus dengan prinsip belajar kelompok dan menekankan pada peningkatan kemampuan  membaca, menulis, mendengar, dan berbicara seperti layaknya pendidikan formal pada umumnya. Selain itu, di dalam kegiatan indoor learning ini para pendidik akan memberikan motivasi kepada anak penyandang tunanetra bahwa kondisi bentuk fisik tidak akan berpengaruh dalam meraih asa. Anak yang berkebutuhan khususpun juga berhak untuk memiliki asa yang gemilang. Hal ini akan memicu anak-anak tunanetra untuk lebih antusias dalam belajar menggali potensi untuk mewujudkan mimpi yang gemilang.

Program kedua disebut dengan PENA Outdoor Learning. Sistem belajar di luar ruangan ini biasanya berbentuk funky outbound. Funky outbound sendiri lebih kearah belajar dari objek sekitar dengan cara memeragakan sesuatu menggunakan semua indera kecuali penglihatan dan akan dipandu oleh mentor. Selain itu, pembelajaran outdoor learning ini sebagai sarana rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat yang telah diberikan kepada mereka.

Ketiga, PENA Character Building. Setelah melakukan kegiatan outdoor learning, maka selanjutnya adalah membentuk kepribadian atau karakter bagi penyandang disabilitas tunanetra yang unggul dan berbakat. Di dalam kegiatan ini, mereka dituntut untuk memiliki bakat atau potensi tersendiri layaknya anak-anak yang tidak berkebutuhan khusus. Para anggota komunitas dan berbagai pihak terkait lainnya harus mampu menjadi pendamping untuk menggali potensi anak-anak disabilitas tunanetra. Kegiatan ini akan menerapkan prinsip penanaman  dan penyempurnaan sikap sehingga akan membentuk karakter anak yang lebih baik. Sehingga, mereka juga memiliki andil besar dalam meraih masa depannya tanpa ada keterbatasan fisik maupun mental. Selain itu di dalam kegiatan ini juga menerapkan prinsip ketrampilan yang  berfungsi selektif, edukatif, rekreatif dan terapi agar dapat dijadikan sebagai bekal dalam kehidupannya kelak.

Terakhir, PENA Dream Come True. Dalam kegiatan ini diharapkan para penyandang disabilitas tunanetra mampu memanfaatkan bakatnya untuk diimplementasikan dalam rangka pemenuhan masa depannya. Selain itu dengan adanya program kegiatan ini membuktikan bahwa dia bermanfaat bagi orang lain dan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, mereka tidak memiliki rasa minder atau malu dengan kondisi fisik yang tidak sempurna. Bahkan, mereka akan bisa lebih baik daripada anak-anak yang normal pada umumnya.

Apabila seluruh elemen bekerja sama dengan baik, maka kegiatan di atas akan berjalan dengan lancar. Dengan demikian para penyandang disabilitas tunanetra akan mudah untuk berekspresi dalam meraih asa tanpa adanya keterbatasan. Misi akhir dari komunitas ini adalah mewujudkan para penyandang tunanetra sebagai generasi emas akan tercapai.

Sumber: Meenta.net