Menaker Hanif Dhakiri: Masalah Kita Bukan Tenaga Kerja!

Depok -  Milenial adalah golongan yang sering disebut pada perhelatan Pemilu 2019. Suara dari golongan ini dianggap penting karena menurut Nana Sobarna, Komisioner KPU kota Depok, lebih dari 30 persen dari pemilih Indonesia adalah pemilih milenial. Maka dari itu, Yayasan Ahimsa, dalam grand launching nya mengadakan diskusi publik berjudul Millennial Voters untuk Pemilu 2019 yang diselenggarakan di depok pada senin (25/03). Acara ini turut mengundang Nana Sobarna, Reni Soewarso (Direktur Institute for Democracy, Security and Strategic Studies (IDESSS)), Edbert Gani (Pengamat Politik dan Alumni London School of Economics) dan Hanif Dhakiri (Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia).

Menurut Reni, definisi tentang siapa itu milenial harus jelas terlebih dahulu. Menurut Reni Milenial itu adalah orang yang berusia 25-37 tahun. Umur dibawah itu adalah generasi Internet. Ketika definisinya sudah jelas, baru diskusi dapat dimulai.

Edbert Gani setuju dengan pendapat mantan dosennya ini. Gani melanjutkan, kata milenial juga sudah terlalu sering disebut.

"kata milenial ini sudah inflasi. Terlalu sering disebut dan selalu disempitkan definisinya. Milenial itu seperti nya artinya cuma satu: anak muda. " kata Gani.

Gani menyayangkan generasi milenial ini sering diartikan sebagai generasi yang tidak tahu apa-apa. Menurut Gani, generasi milenial tidak sama dengan pemilih pemula. Mereka juga sudah pernah merasakan pemilu-pemilu sebelumnya. Bagi Gani, seharusnya pencerdasan politik bagi kelompok milenial tidak lagi berkutat pada isu kenapa harus memilih tetapi, lebih kepada isu yang menyangkut pada kepentingan generasi milenial seperti isu bonus demografi atau isu ekonomi karena angkatan pekerja sekarang juga masuk pada generasi milenial.

Sementara itu, Hanif Dhakiri memulai pemaparan meneruskan poin Gani mengenai bonus demografi. Bonus demografi dimana angka usia produktif di sebuah negara sedang menjadi mayoritas dilihat Hanif sebagai pisau bermata dua. Ia bisa menjadi berkah sekaligus bencana.  Bonus demografi akan menjadi bencana jika sebagian besar milenial menjadi pengangguran. Kenapa ada pengangguran?

Menurut Hanif permasalahan pada Ketenagakerjaan Indonesia adalah ketidakcocokan kualitas tenaga kerja dengan pasar.

"Problem kita bukan tenaga kerja problem kita adalah ketimpangan skill" kata Hanif menegaskan

Bagi Hanif sekarang telah tercipta sekitar 10 juta lapangan kerja. Permasalahannya adalah sekolah belum tentu menyediakan ilmu yang dibutuhkan oleh industri. Selain itu, persebaran tenaga kerja ahli ini tidak merata. Hal-hal inilah yang menurut Hanif menciptakan banyak pekerjaan tidak menyerap tenaga kerja di daerah tertentu.