Memperingati Pengeboman Hiroshima dan Nagasaki

Jakarta – Tepat pada hari ini pada (09/08) 74 tahun yang lalu, Kota Nagasaki, di Jepang dibombardir oleh bom atom milik pasukan Sekutu. Tiga hari sebelumnya, kota Jepang lain juga dijatuhi bom oleh pihak Sekutu.

Efek dari pengeboman ini sangat besar. Sebanyak 70 ribu orang terbunuh secara instan dan jumlahnya meningkat hingga sekitar 140 ribu orang pada Desember 1945 karena radiasi yang dihasilkan bom atom. Selain membuat Jepang menyerah kepada Sekutu dan mengakhiri Perang Dunia Kedua, Pengeboman ini mengubah jalannya sejarah bagi Jepang dan dunia luas.

Kenapa Hiroshima dan Nagasaki?

Penyerangan Jepang ke Pearl Harbour, markas angkatan laut Amerika Serikat di Hawaii, pada 7 Desember 1941 menjadi penanda bahwa Jepang ikut dalam Perang Dunia II. Selama empat tahun Jepang bersama, Jerman dan Italia menjadi aktor utama dari Pihak Poros melawan Pihak Sekutu yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS), Uni Soviet, Tiongkok, dan Kerajaan Inggris. Dalam perkembangannya Jepang menjadi lawan terkuat Amerika di Pasifik.

AS ingin mengakhiri Perang Pasifik setelah Pasukan Sekutu berhasil menaklukan Jerman dan Mengakhiri Perang Dunia II di Eropa. Membuat Jepang menyerah adalah opsi yang diambil AS. Tadinya, AS ingin mengerahkan pasukan dalam jumlah besar untuk menginvasi Jepang lewat jalur darat tetapi, opsi itu dikesampingkan karena akan memakan korban yang banyak bagi kedua belah pihak. Akhirnya mereka sepakat untuk membombardir kota yang penting bagi Jepang.

Hiroshima dan Nagasaki dipilih karena kedua kota ini adalah kota industri pelabuhan strategis Jepang. Kedua kota juga memiliki populasi yang cukup signifikan agar Jepang menyadari kerusakan yang ditimbulkan dari kedua bom atom ini. Pada awalnya, Nagasaki dicoret dari daftar kota yang akan dijatuhi bom atom. Pilihan Jepang saat itu adalah kota industri lain, Kokura. Akan tetapi karena asap hasil penyerangan AS di Yahata, kota tetangga Kokura sehari sebelumnya. Selain itu asap pabrik baja disana telah memenuhi awan kota Kokura sehingga bom tidak bisa dijatuhkan disana.

Karena bahan bakar pesawat akan habis, dipilihlah kota yang dekat dari Kokura, Nagasaki, kota yang telah dicoret dari daftar. Pesawat AS pun langsung menuju Nagasaki dan menjatuhkan bom atom yang dinamai Fat Man, bom yang ukurannya lebih besar dari yang dijatuhkan AS di Hiroshima. Alhasil 40 ribu warga Nagasaki tewas seketika.

Efek Bom Atom

Bom atom sangatlah mematikan di kedua kota tempatnya dijatuhkan. Kota Hiroshima dan Nagasaki sekejap luluh lantak. Kekuatan bom yang beratus kali lipat dari bom biasa (TNT), membuat berbagai bangunan kota rata dengan tanah. Hanya bangunan dengan pondasi kuat yang bisa bertahan seperti bangunan Bank Hiroshima.

Peneliti Ekologi Lautan, Mario Wannier dalam kesaksiannya seperti dikutip dari Japan Times menyatakan kalau bom atom telah meluluhlantakan seisi kota. Partikel berbagai bangunan yang remuk redam tersebut hancur berkeping-keping menjadi partikel-partikel yang tersebar di sekitar kota Hiroshima. Wannier menemukan, partkel pasir pantai di Hiroshima telah bercampur dengan partikel bangunan kota yang telah rata dengan tanah.

Potret bekas gedung pertunjukan yang hancur karena bom atom (Stanley Troutman/AP)

Selain berdampak ke kota dan menewaskan banyak orang seketika, ledakan bom atom juga berefek pada kesehatan warga di kedua kota. Warga yang selamat dari bom atom atau dalam Bahasa Jepang disebut Hibakusha tidak berhenti menderita. Setelah kehilangan sanak saudara mereka karena ledakan bom, tubuh mereka pun terkontaminasi radiasi yang menyebabkan risiko terkena kanker meningkat drastis. Selain itu, anak yang lahir dari orangtua yang terkena nuklir akan lebih rentan terlahir dengan disabilitas. Hal-hal ini lah yang membuat Jepang memutuskan untuk menyerah, sebuah tindakan yang tercela dalam budayanya.

Lepas dari Beban Masa Lalu

Sekalipun negaranya telah dihancurkan oleh perang, Jepang tidak bermuram durja menghadapi kenyataan kalau negeri mereka telah hancur. Sekarang mereka adalah negara dengan teknologi yang maju. Mereka berhasil bangun dari keterpurukan karena kebijakan ekonomi yang tepat menyembuhkan mereka dari krisis yang menimpa mereka.

Banyak orang menyebutkan Keajaiban Ekonomi Jepang. Setelah Jepang menyerah dan luluh lantak, AS banyak berinvestasi ke Jepang. Hal ini terjadi selain karena AS berperan sebagai “wali” yang menuntun Jepang keluar dari krisis, meletusnya Perang Korea dimana AS terlibat mendukung Korea Selatan membuat AS merelokasi pabrik-pabrik logistik dan senjatanya ke Jepang.

Peran Kaisar Hirohito sangat penting dalam pemulihan negaranya. Disaat negerinya hancur, ia tidak lari dan menyerah. Ia bertahan bersama rakyatnya dan menjadi simbol pemersatu dan penguat moral bangsa Jepang. Jepang pun berhasil melewati masa gelapnya dan menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia.