Kualitas Diri yang Ternyata Lebih Penting dari IQ

Dalam wawancara dengan New York Times, Stephen Hawking menyatakan bahwa, “People who boast about their IQ are losers”. Kira-kira artinya adalah, Orang-orang yang membanggakan IQ mereka adalah seorang pecundang. Memang terkesan ofensif. Tapi tidak mungkin manusia secerdas Stephen Hawking (perkiraan IQ 160) akan mengatakan hal seperti itu tanpa alasan yang kuat. IQ bukanlah indikator utama yang dapat memprediksi kesuksesan yang dimiliki seseorang.

Dilansir dalam entrepreneur.com, setidaknya ada 3 kualitas lain yang lebih mampu memprediksi seberapa suksesnya seseorang dan mungkin saja tidak pernah kita sadari sebelumnya. Apa aja 3 kualitas tersebut? Yuk kita pelajari bersama-sama.

1. Self Regulation

Dalam riset yang diadakan oleh Stanford, beberapa anak disajikan marshmallow di hadapannya, mereka boleh saja langsung memakannya, namun jika mereka bersedia menunggu dan menahan diri untuk tidak memakan marshmallow yang ada hingga batas waktu tertantu, maka mereka akan mendapatkan hadiah 1 marshmallow tambahan. Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa anak-anak yang dapat menahan diri ternyata tumbuh menjadi individu yang lebih berprestasi secara akademis, memiliki pendapatan yang lebih besar, serta cenderung tumbuh lebih sehat dibandingkan kelompok lain yang tidak dapat menahan dirinya.

Kemampuan untuk menahan diri demi mendapatkan keuntungan lebih merupakan wujud dari self regulation, atau dalam Bahasa Indonesianya kita sebut dengan Regulasi Diri. Regulasi diri adalah kemampuan (kualitas) seseorang untuk mengubah respon-respon, seperti mengendalikan impuls perilaku (dorongan perilaku), menahan hasrat, mengontrol pikiran dan mengubah emosi. Secara sederhana, regulasi diri adalah kemampuan seseorang dalam mengontrol dirinya.

Regulasi diri ini mirip dengan otot yang dapat dilatih dan dikembangkan. Terdapat beberapa latihan sederhana yang dapat sobat lakukan untuk meningkatkannya seperti berlatih untuk bangun 10 menit lebih awal dari waktu bangun tidur biasanya, membuat rutinitas baru yang positif, serta yang mungkin teman-teman juga sudah yaitu dengan berpuasa. Cukup mudah kan untuk melatihnya?

2. Empathy

Pada zama modern yang biasanya lebih menitikberatkan perbedaan dibandingkan persamaan, konflik merupakan hal yang hampir tidak mungkin untuk dapat dihindari. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan Empati sebagai: “keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Nahh empati dapat menjadi kualitas kunci untuk menyelesaikan konflik secara konstruktif.

Empati melibatkan proses berpikir serta pemahaman yang baik. Jadi kita tidak hanya ikut merasakan kondisi emosi yang dialami oleh orang lain, namun kita juga menempatkan diri dalam kondisi emosi orang lain, menganalisa dasar permasalahan yang dihadapi, serta memilih sikap yang tepat untuk ditunjukkan. Yang paling harus kita ingat, Empati tidak sama dengan Mengasihani dan Simpati. 3 Langkah yang bisa sobat lakukan untuk meningkatkan empati yang sobat miliki adalah dengan (1) berusaha melihat masalah dari sudut pandang orang lain, (2) belajar menjadi pendengar yang baik, dan (3) bersikaplah sesuai dengan waktu, tempat, dan kebutuhannya.

3. Grit

Angela Duckworth, seorang psikolog sekaligus peneliti berkebangsaan Amerika melakukan studi terhadap ribuan orang sukses di Amerika. Ia kemudian menemukan bahwa faktor kunci kesuksesan yang dimiliki oleh seseorang ternyata bukanlah IQ, kecerdasan sosial, kesehatan fisik, maupun penampilan. Faktor kunci yang paling mampu memprediksi kesuksesan adalah: Grit. Definisi dari Grit adalah perseverance (ketekunan) dan passion (gairah) untuk menuntaskan sebuah tujuan jangka panjang.

 

Langkah Tingkatkan Kualitas Diri

Darmawan Aji, seorang productivity coach asal Indonesia menyampaikan bahwa terdapat empat langkah yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas diri.

Langkah pertama adalah dengan menemukan passion. Kalau sobat masih belum mengetahui passion yang sobat miliki, cobalah untuk mengingat kembali aktifitas apa yang tidak pernah membuat sobat merasa bosan? Aktifitas apa yang sobat akan bersedia melakukannya setiap hari? Dan Aktifitas apakah yang sobat bersedia merasa “menderita” untuk memperjuangkannya? Temukanlah irisan jawaban dari 3 pertanyaan tersebut. Kemungkinan besar, hal tersebut merupakan passion yang sobat miliki.

Selanjutnya, mengevaluasi setiap kegagalan atau pun kemunduran yang sobat pernah alami. Ingat baik bahwa kegagalan dan kemunduran tidaklah permanen. Tugas sobat bukanlah untuk menyesali kegagalan tersebut, melainkan evaluasi dan belajar untuk tidak mengulangi serta tumbuh menjadi pribadi yang lebih positif di masa depan.

Kemudian, menemukan cara untuk membuat menjadi lebih bermakna. Keypointnya adalah “Pikirkan, Bagaimana caranya agar pekerjaan yang sobat lakukan dapat memberikan manfaat yang lebih positif bagi orang lain, dan bukan hanya memberikan manfaat bagi diri sendiri, tapi juga orang lain”.

Lalu, meyakini semua orang berubah dan terus bertumbuh. Keyakinan ini terutama akan menjadi "obat utama" ketika sobat mengalami kegagalan, Hindarilah berpikir bahwa kegagalan adalah pertanda tidak berbakat di suatu bidang. Fixed mindset. Ini adalah pola pikir yang kurang tepat. Sadari bahwa bisa berubah. Jika kita mau, kita bisa bertumbuh. The Show Must Go On.

Setidaknya, tiga kualitas diri ini yang lebih penting dari IQ. Saat ini, mengoptimalkan kualitas-kualitas tersebut dengan berlatih mengembangkan diri.

 

Sumber: Indy100.com, New York Times ,Scienceabc.com ,Dictio.id, Akutahu.com, ted.com, Darmawanaji.com

Sumber Gambar: https://www.sciencenewsforstudents.org