Kisah Taman Ismail Marzuki, Dulu dan Nanti

Jakarta - Taman Ismail Marzuki (TIM) dibangun diatas areal tanah seluas sembilan hektar, menjadi salah satu lokasi bagi orang-orang yang haus akan ilmu dan kesenian. Bahkan, tempat ini juga dilengkapi oleh planetarium.

Nama Taman Izmail Marzuki diambil dari seniman sekaligus pejuang Betawi Ismail Marzuki (1914-1957) yang telah menciptakan lebih dari 200 lagu, termasuk lagu perjuangan "Halo-halo Bandung".  Atas jasanya itu, komponis Betawi ini diabadikan namanya untuk penamaan Pusat Kesenian Jakarta yang populer disebut Taman Ismail Marzuki (TIM).

TIM diresmikan oleh Gubernur Pemerintah Daerah Propinsi DKI Jakarta Jenderal Marinir Ali Sadikin, tanggal 10 Nopember 1968. TIM sejak berdiri tahun 1968 lalu hingga kini telah menjadi ruang ekspresi seniman yang menyajikan karya-karya inovatif.

Beberapa penampilan seni pun dipentaskan di TIM. Salah satunya, hasil garapan Rendra, pimpinan Bengkel Teater Yogya atau pertunjukkan seni tari hingga drama musikal.

Revitalisasi TIM

Saat ini, Taman Ismail Marzuki rencananya akan dirombak dengan menambahkan beberapa fasilitas lainnya, membuat masyarakat lebih nyaman. Selain itu, wajah baru TIM ini juga akan menjadikan tempat untuk berekspresi ini jadi lebih modern.

Tak hanya digunakan dalam skala nasional, tapi juga bisa untuk keperluan acara internasional. Beberapa fasilitas yang rencananya akan hadir di TIM baru, diantaranya pengembangan Laboratorium Seni, Etalase Seni, dan akhirnya menjadi Baromater Seni yang dapat menjadi bagian perjalanan wisata seni budaya.

“PKJ TIM diproyeksikan melahirkan seniman-seniman besar Indonesia dengan tetap melestarikan fungsi dasarnya sebagai taman warga kota,” ungkap Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (Perseroda) Dwi Wahyu Daryoto.

Perombakan TIM ini dipegang secara penuh oleh PT Jakarta Propertindo. Desainnya TIM baru telah dibuat sejak 2007 silam, oleh arsitek Andra Matin, pemenang sayembara konsep desain.

Revitalisasi PKJ – TIM memerlukan dana Rp 1,8 Triliun. Sumber dana dari Penyertaan Modal Daerah (PMD) DKI Jakarta tahun 2019 sebesar Rp 200 Miliar. Diharapkan, revitalisasi dapat rampung pada medio 2021, dan soft opening dapat dilakukan pada Agustus 2021.

(Berbagai Sumber)