Kepemimpinan Inklusif Untuk Menghadapi Dunia Digital

Jakarta - Dalam mengelola organisasi modern, cara yang modern lah yang diperlukan. Salah satu bentuk dari cara modern ini adalah corak kepemimpinan. Untuk itu,  YPIA menyelenggarakan diskusi mingguan YPIA yang bertajuk Kepemimpinan Inklusif di Era Digital yang diselenggarakan di Kantor YPIA di L' Avenue, Pasar Minggu, Jakarta pada Jum'at (06/09). Diskusi ini dipandu oleh Daryanto, Senior Advisor Media Akutahu.

Menurut Daryanto, digitalisasi adalah sebuah keharusan yang tidak bisa dihindarkan. Semua inventarisasi perusahaan harus ada datanya dan datanya harus tersusun rapi. Pemimpin harus punya komitmen untuk mengintegrasikan kepemimpinannya dengan kebutuhan masa kini. Pertanyaannya pola kepemimpinan apa yang dibutuhkan?

Daryanto berpendapat pola kepemimpinan tradisional problematis. Beberapa riset membuktikan alasan pertama ketidakbahagiaan karyawan di perusahaan adalah masalah hubungan dengan atasannya. Solusinya adalah pergantian pola kepemimpinan menjadi kepemimpinan inklusif. Apa itu kepemimpinan inklusif?

Menurut Daryanto, secara singkat, kepemimpinan inklusif adalah kepemimpinan yang terbuka, termasuk dengan kritik dari bawahan. Kepemimpinan inklusif memiliki enam ciri: menghormati perbedaan, terbuka dan respek terhadap kesalahan anggota tim, sadar akan kelemahan anggota tim, peduli & empati dengan anggota tim, menghormati latar belakang budaya anggota tim, dan fokus dengan kolaborasi dan keutuhan tim.

Lebih lanjut lagi pola kepemimpinan ini terbukti sukses meningkatkan produktivitas karyawan. Menurut sebuah riset, 84 % karyawan yang memiliki atasan yang inklusif cenderung dapat ditempatkan di posisi manapun dibandingkan dengan karyawan dengan atasan yang ekslusif.

Perbedaan waktu membuat karakteristik karyawan di masa kini berbeda. Ada beberapa sifat dari pekerja Milenial dalam bekerja dan itu harus diketahui oleh pemimpin.

"Milenial sekarang kerja tidak suka diatur waktunya. Bagi mereka jam 12 (malam) justru waktu yang tepat untuk bekerja" terang Daryanto.

Hal inilah yang menurut Daryanto penting untuk diketahui para pemimpin di era digital.

Lalu bagaimana cara bisa menjadi pemimpin yang inklusif? Menurut Daryanto setiap pemimpin harus mengenal dirinya sendiri.  Ia harus bertanya ke dirinya maupun orang lain, apakah ia sudah inklusif? Jika belum, ia harus lebih vokal menyuarakan pesan inklusifitas. Jangan ragu untuk minta pendapat orang lain tentang ini. Jika perlu libatkan pihak luar. Jangan sungkan untuk bekerjasama dengan pihak luar jika dibutuhkan.

"Kepemimpinan inklusif telah banyak diterapkan dan kepemimpinan inklusif telah ditinggalkan" tutup Daryanto.