Jelang Debat Ketiga, Ini Saran Penting untuk Negara dari Para Ekonom INDEF

Jakarta - Menjelang Debat Ketiga Pemilu Presiden (Pilpres) 2019, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), lembaga penelitian ekonomi Indonesia, mengadakan konferensi pers mengenai ide mereka dalam menyelesaikan masalah struktural Ketenagakerjaan di ITS Tower, Jakarta pada Kamis (14/03).

Menurut peneliti senior INDEF, Fadhil Hasan, produktivitas tenaga kerja kita rendah. Total factor productivity Indonesia relatif rendah dibandingkan negara-negara lain. Indonesia kurang fokus dalam memberikan pelatihan yang relevan bagi tenaga kerja agar produktifitas tenaga kerja naik.

Suplai tenaga kerja kita juga tidak berhubungan dengan industri.

"perekonomian kita mengarah kepada Digital Economy. Permasalahannya apakah kita telah mempersiapkan pekerja kita untuk melewati era tersebut" kata Fadhil.

Ada gap antara persiapan tenaga kerja kita dengan perkembangan teknologi. Padahal dalam menghadapi kebijakan industri 4.0 yang dicanangkan pemerintah kesiapan tenaga kerja diperlukan.

Sementara itu, Wakil Direktur INDEF, Eko Listyanto melihat masalah Ketenagakerjaan adalah masalah yang struktural. Solusi dari masalah Ketenagakerjaan tidak sesederhana memberikan pelatihan pada pengangguran.

"Dari pengangguran - pengangguran yang kami teliti, banyak dari mereka yang telah menerima pelatihan dan sertifikasi" Terang Eko.

Eko melihat permasalahan Ketenagakerjaan memiliki banyak variabel seperti kurikulum sertifikasi yang belum diperbaharui atau definisi pengangguran yang masih harus didefinisikan ulang karena ada pengangguran berpenghasilan miliaran seperti youtuber.

Menurut Eko, Pemerintah Indonesia harus mendorong kebijakan Ketenagakerjaan harus berbasis permintaan. Tenaga kerja harus bisa beradaptasi dengan permintaan industri. Jurusan - jurusan vokasional seperti  SMK yang tidak relevan dengan permintaan industri harus dikurangi.