Jakarta Smart City 2020, Rama Raditya Bangun Aplikasi Berdampak Positif

Jakarta - Pemuda dan pemudi Indonesia berbagi kisah inspiratif dalam Young On Top, termasuk cerita dari Rama Raditya yang merupakan CEO Qlue. Acara ini mendapatkan sambutan hangat dari publik, dihadiri 4.200 orang di Balai Kartini, Sabtu (6/4/2019). CEO Qlue itu berbagi cerita mengenai perusahaan yang dia bangun, mentransformasi berbagai macam data menjadi pengartian yang terukur dan dapat ditindaklanjuti.

Rama Raditya menjelaskan mengenai Qlue, dengan kekuatan machine learning dan platform data intelligence, Qlue membantu membentuk tata kelola yang baik dalam hal manajemen tenaga kerja. Menurutnya, start-up bukan selalu karena uang. Rama Raditya mengungkapkan, Qlue didirikan pada tahun 2014. 

Rama Raditya mengatakan, "dampak positif bagi masyarakat adalah yang ia incar saat membangun start-up Qlue. Kalau social impact bisa terwujudkan, uang dan lainnya pasti akan mengikuti."

Mengejar social impact ini dia lakukan dengan membangun Qlue. Dia pun berhasil mendapatkan celah dalam membangun bisnisnya. Rama melihat bahwa kota besar, khususnya Jakarta, memiliki banyak masalah.

"Sayangnya, pemerintah sering kali salah dalam mengidentifikasi masalah" kata Rama.

Untuk itu, Rama mengembangkan aplikasi Qlue untuk membantu pemerintah. Caranya adalah dengan membangun platform komunikasi dan transparansi antara warga dengan pemerintah, lewat aplikasi Qlue.

​​​​​​​

"Sejauh ini kami berhasil membantu pemerintah misalnya dalam mengurangi titik banjir dan membangun kepercayaan antara pemerintah dan warga" ujar Rama.

Hasilnya, Qlue menjadi benchmark Jakarta Smart City 2020. Selama mengembangkan Qlue, tentu ada masalah yang muncul saat berjalan. "Yang tersulit adalah bagaimana caranya mempertemukan warga dengan pemerintah" kisah Rama.

Namun, Rama optimistis dengan Qlue. Menurutnya, kota akan semakin padat dimana 45% penduduk akan menetap di kota. Akibatnya, permasalahan akan semakin banyak dan Qlue akan selalu relevan.

Reporter: Andi Wirapratama