• A PHP Error was encountered

    Severity: Notice

    Message: Undefined variable: rss_hide

    Filename: partials/_social_media_links.php

    Line Number: 45

    Backtrace:

    File: /home/isnaenirikki/public_html/application/views/partials/_social_media_links.php
    Line: 45
    Function: _error_handler

    File: /home/isnaenirikki/public_html/application/views/partials/_header.php
    Line: 770
    Function: view

    File: /home/isnaenirikki/public_html/application/controllers/Home.php
    Line: 164
    Function: view

    File: /home/isnaenirikki/public_html/index.php
    Line: 315
    Function: require_once

Inovasi Baru, Ubah Sampah Jadi Bahan Bakar

Sampah merupakan sebuah permasalahan sosial yang terus terjadi dalam setiap periode kehidupan. Tak halnya kehidupan tetapi PR bagi setiap negara di dunia, khusunya di Indonesia. Indonesia menempati urutan kedua di dunia setelah China dalam produksi sampah plastik. Dari 8 juta ton plastik yang di buang ke lautan di seluruh dunia, setiap 16 % berasal dari Indonesia.

Menurut Kementrian Kelautan, orang Indonesia mengomsumsi sejuta kantong plastik per menit. Dalam satu tahun, Indonesia sendiri telah menghasilkan 3,2 juta ton sampah plastik dan berakhir di lautan dan menjadi puing-puing laut yang mengganggu ekosistem laut. Dan 1,29 juta metrik ton sampah plastik yang berakhir ke lautan. Angka ini setara dengan 215 ribu ekor gajah jantan Afrika dewasa berbobot 6 ton di lautan.

Isu serta inovasi terbarukan selalu muncul terkait masalah sampah di Indonesia.  Seperti halnya di Dukuh Lebak RT 03 RW 13, Desa Wirun Kecamatan Mojolaban, Jawa Tengah.Salah satu warganya menciptakan inovasi baru yaitu mengolah sampah menjadi bahan bakar.

Untuk membuat bahan bakar tersebut Dia memanfaatkan bekas gudang rumahnya sebagai “kilang minyak”.

Sebelum dipanaskan, Purwanto terlebih dulu mengumpulkan sampah lalu membersihkan dan menjemur sampah plastik yang didapatnya dari para tetangga. Setelah sampah plastik benar-benar kering, berlanjut dicacah lalu dimasukkan tungku reaktor. Di bagian bawah tungku dinyalakan bara api dari kayu bakar. “(Tungku reaktor, Red) muat sampahnya paling cuma dua kilogram. Dari dua kilo bisa jadi dua sampai 2,5 liter BBM. Alatnya ini saya rancang sendiri dibantu saudara saya yang tukang las. Waktu itu modalnya sekitar Rp 1 juta,” katanya.

Tabung besi dengan diameter sekitar 40 sentimeter dan tinggi satu meter tersebut mengepul. Asap dari pembakaran sampah plastik di dalam tabung reactor tersebut disalurkan ke dalam pipa besi dengan diameter lebih kecil.

Sekitar setengah jam, cairan hasil pengupaan masuk ke dalam botol penampung. Itulah, teknik sederhana penyulingan yang dilakukan Purwanto untuk menghasilkan BBM. “Kalau menunggu sampai penuh (botol isi 1 liter, Red) bisa sampai empat jam,” tutur Pria kelahiran Sukoharjo, 14 Mei 1982 ini.

Setelah bara menyala, limbah plastik dalam tungku yang terpanggang menimbulkan asap dan masuk ke dalam pipa. Di situlah terjadi proses pendinginan dengan bantuan air dan uap asap menghasilkan cairan. “Ini seperti proses penyulingan alkohol,” terang Purwanto.

Tabung besi dengan diameter sekitar 40 sentimeter dan tinggi satu meter tersebut mengepul. Asap dari pembakaran sampah plastik di dalam tabung reactor tersebut disalurkan ke dalam pipa besi dengan diameter lebih kecil.

Proses berikutnya adalah menyaring cairan hasil penguapan.

inovasi BBM alternatif buatan Purwanto ini telah dicek oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta yang kebetulan sedang kuliah kerja nyata (KKN) di desanya. 

Dari hasil uji lab, BBM dari sampah plastik itu bisa menghasilkan dua jenis bahan bakar. Yakni yang mirip premium dan solar. Ide membuat BBM alternatif tersebut karena perajin genting di desa setempat kesulitan membeli minyak tanah karena harganya selangit. Selain untuk menyalakan tungku pembakaran, BBM tersebut digunakan agar tanah liat tidak lengket di mesin pencetak.

Akhirnya, para perajin mengganti minyak tanah dengan solar. “Untuk mendapatkan solar pun rumit. Harus bawa surat pengantar dari kelurahan dan kecamatan,” ujarnya.

Hasil penyulingan yang menyerupai premium, Purwanto membanderol Rp 6.000 per liter. Sedangkan yang mirip solar, Rp 5.000 per liter. BBM alternatif itu, lanjutnya, pernah dibawa anggota DPRD Kabupaten Sukoharjo untuk ditunjukkan ke Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto. 

“Alhamdullilah, katanya saya mau dikasih alat yang tungkunya lebih besar sekitar bulan Juli ini. Jadi produksinya bisa lebih banyak,” imbuhnya.

Purwanto berharap, BBM alternatif tersebut sebagai upaya meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Yakni, mengurangi penggunaan plastik dan tidak membuang sampah sembarangan.

“Pikiran saya awal itu sekadar mengurangi sampah di kampung saya dan membuat bahan bakar pengganti,” tutup Purwanto, pria kelahiran Sukoharjo, 14 Mei 1982 ini.

 

sumber : hasil wawancara, radarsolo.com

gambar : google image

Kamu suka dengan konten akutahu.com? Berikan dua jempol sebagai tanda kamu menyukai konten ini.

Beritahu cuan reaksi kamu setelah membaca konten ini.

like
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0