Ini Cara Mencegah Asma Kambuh

Asma adalah penyakit peradangan saluran napas kronik yang ditandai oleh peran dari banyak sel dan elemen seluler. Peradangan ini berhubungan dengan hiperesponsif saluran nafas yang menimbulkan episode berulang kali berupa mengi, pendek nafas, sesak dada dan batuk yang terutama terjadi pada malam hari atau dini hari (Dahlan Zulkarnain, 2012).

Namun definisi yang paling banyak diterima secara luas adalah hasil panel National Istitute of Health (NIH), National Heart Lung and Blood Institute (NHLBI). Menurut NHLBI asma adalah penyakit inflamasi kronik saluran nafas di mana banyak sel berperan terutama sel mast, eosinophil, limfosit T, makrofag, neutrophil dan sel epitel (Wibisono M. Jusuf, 2010).

Asma merupakan masalah kesehatan dunia. Diperkirakan sebanyak 300 juta orang menderita asma, dengan prevalensi sebesar 1-18%, bervariasi pada berbagai negara. Kejadian asma dipengaruhi faktor genetik, lingkungan, umur dan gender dan terdapat kecenderungan peningkatan insidensinya terutama didaerah perkotaan dan industri akibat adanya polusi udara. Prevalensi di Indonesia adalah sebesar 5-7%.

PBB memperkirakan Disability Adjusted Life Years ( DALYs ) sebanyak 15 juta setiap tahun karena asma, yang merupakan 1% dari beban global akibat penyakit. Berdasarkan data dari Organisasi kesehatan dunia (WHO) dan Global Initiative for Asthma (GINA) 2012, di seluruh dunia diperkirakan terdapat 300 juta orang menderita asma dan diperkirakan tahun 2025 mendatang jumlah pasien asma akan mencapai 400 juta orang. Sedangkan wilayah Sulawesi selatan sendiri prevalesinya sebesar > 6% (Riskesdas, 2013). Di Indonesia sendiri angka kematian pada pasien asma sekitar 13,3% diakibatkan karena gagal napas.

Salah satu upaya preventif untuk mencegah kambuhnya asma, dapat dilakukan dengan menggunakan diafragmatic breathing exercise. Diafragma adalah salah satu otot pernapasan yang berbentuk kubah di bawah paru-paru yang membantu proses bernapas. Pernapasan diafragma merupakan pernapasan yang paling efektif karena jumlah oksigen yang diperoleh lebih banyak dan dapat mengurangi kerja otot asesoris pernapasan. Selain itu pernapasan diafragma dapat memaksimalkan pengembangan thoraks dibandingkan dengan pernapasan dada. Teknik ini membantu memperkuat diafragma, dan dapat mengatur frekuensi pernapasan.

Pernapasan diafragma dapat dilatih dengan posisi berbaring maupun duduk. Tetapi, umumnya biasa dilakukan dengan posisi berbaring. Caranya, berbaring terlentang dengan lutut semifleksi (sedikit ditekuk) dan letakkan satu tangan di perut serta tangan lainnya di dada, kemudian tarik napas dan kembangkan perut. Anda dapat merasakan tangan di perut bergerak ke atas, sementara tangan di dada tidak bergerak. ketika mengeluarkan udara sisa, dorong perut ke bawah hingga Anda merasakan jika tangan yang ada di perut bergerak turun. Latihan ini juga dapat dimodifikasi dengan pemberian beban yang diletakkan di atas perut yang bertujuan untuk memperkuat otot diafragma.

diafragmatic breathing exercise telah banyak diteliti untuk meminimalkan angka kejadian asma. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Syied N, Sukhvidlnder G, and Prem V tahun 2016, menunjukkan bahwa diafragmatic breathing exercise dapat meningkatkan ekspansi thoraks. Hal tersebut dapat dilihat pada hasil penelitiannya yang menunjukkan perubahan ekspansi thoraks dari 2,00cm menjadi 2,50cm pada kelompok perlakuan. Namun, perubahan tersebut hanya terjadi di daerah middle thoraks (sejajar procesus xiphoideus) sedangkan pada daerah aksila/upper thoraks (ketiak) tidak terlihat perubahan yang cukup signifikan. Selain itu diafragmatic breathing exercise dapat mengatur frekuensi pernapasan dari 22 kali menjadi 18 kali/menit, serta dapat meningkatkan kualitas hidup penderita asma atau AQLQ : Asthma Quality of Life sebesar 1,0 dari 0,5. Latihan ini dapat dilakukan setiap hari terutama dipagi hari.

 

Sumber:

Dahlan Zulkarnain, dkk. 2012. Kompendium Tatalaksana Penyakit Respirasi & Kritis Paru . Jakarta : Perhimpunan Respirologi Indonesia

Syed N, Sukhvinder G and Prem V. 2016. Effect of Diafragmatic Breathing Exercise on the Quality of Life in Subjects with Asthma: Randomized Pilot Trial. Phys Med Rehabil Int.

Wibisono M. Jusuf, dkk. 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru 2010. Surabaya. Departemen Ilmu Penyakit Paru FK Unair.

2. Referensi Main Image : Pinterest.com

3. Referensi Additional Image : physicaltherapyprescott.com, vokalplus.com