Ini Beberapa Penyebab Depresi di Kota Besar

Jakarta - Depresi merupakan gangguan suasana hati (mood) yang dapat memengaruhi pola pikir, perasaan, dan cara menghadapi aktivitas sehari-hari. Lebih miris lagi, depresi ternyata mengintai masyarakat yang tinggal di kota besar.

Psikolog sekaligus dosen di Jakarta Mazdha Ariefriyendho, M.Psi., Psikolog., CGA., CGI menjelaskan kepada Akutahu.com, Selasa (19/2/2019), menyebutkan, depresi yang terjadi di kota besar terjadi akibat faktor internal dan eksternal.

"Depresi yang menyerang masyarakat biasanya terjadi akibat faktor internal dan eksternal, tapi memang yang lebih sering terjadi itu akibat eksternal," katanya.

"Besarnya biaya hidup di daerah perkotaan seringkali sulit untuk diimbangi dengan penghasilan yang didapatkan. Permasalahan-permsalahan tersebut berpotensi menimbulkan stress dan kecemasan yang tinggi, terlebih lagi jika seseorang terlilit hutang dengan bunga yang semakin membengkak. Akhirnya, kecemasan yang ada akan teramplifikasi dan berujung pada masalah-masalah mental yang lainnya," ungkapnya.

"Selain itu, ternyata target kerja di kota besar yang dinamis dan terus meningkat juga menjadi penyebab. Persaingan kerja yang ketat, iklim kerja yang kadang tidak baik, serta kurangnya waktu untuk beristirahat," tambahnya,

Kondisi-kondisi tersebut sering dihadapi oleh masyarakat perkotaan. Jika seseorang tidak dapat menyeimbangkannya dengan kualitas kehidupan pribadi yang baik, juga menyebabkan stress akut yang kemudian menumpuk dan menjadi kronis.

Rupanya kepadatan penduduk juga menjadi penyebab depresi. Alasannya, tingginya tingkat stress tersebut dipicu oleh relatif terbatasnya ruang gerak yang dimiliki oleh seseorang.

"Terbatasnya ruang gerak berimbas kepada tidak tercukupinya ruang privasi yang dibutuhkan. Dengan kata lain, seseorang yang berada dalam kesesakan akan lebih sulit untuk memiliki `Me Time` . Bahkan, kemacetan di jalan bisa jadi penyebabnya," pungkasnya.

 

Sumber foto: Fiveprime