Industri Asuransi Asia Melesu, Keketatan Aturan Tiongkok Jadi Perdebatan

Jakarta - Laporan dari Allianz Research pada Jumat (12/07) membuktikan, Premi Asuransi Global naik menjadi 3,665 Miliar Euro (tidak termasuk premi kesehatan). Sementara itu, premi di tingkat Asia naik sangat sedikit, yaitu hanya sekitar 2,3%. Ini kedua kalinya Asia tertinggal jauh dari pertumbuhan global setelah pergantian milenium.

Menurut Michael Heise, Chief Economist Allianz SE, dari risiko di dunia ini terus meningkat. Michael menerangkan, ada banyak peristiwa di dunia yang memengaruhi angka premi seperti perubahann iklim, demografi, siber, dan politik.

"Kita dihadapkan pada situasi yang sulit," keluh Michael

Ketidakmampuan Asia untuk menaikkan angka preminya diakibatkan oleh menyusutnya pasar asuransi jiwa di Tiongkok dan Korea. Hal ini merupakan pukulan telak bagi industri asuransi di Asia mengingat Tiongkok menyumbang 40% dari total kumpulan premi regional. Peraturan ketat terhadap manajemen kekayaan membuat angka premi melesu disana.

Akan tetapi, Michaela Grimm, Ekonom dari Allianz Research berpendapat lain. Grimm berpendapat diperketatnya peraturan terkait manajemen kekayaan di Tiongkok harusnya dimaknai secara positif. Bagi Grimm, hal ini justru menandakan Tiongkok telah siap melangkah ke pembangunan yang lebih seimbang dan berkelanjutan.

"2018 tidak menandai akhir dari kisah pertumbuhan Asia" kata Grimm yakin.