Indonesia Butuhkan Lebih Banyak Rumah Sakit Tangani Stroke

Jakarta - Indonesia setidaknya membutuhkan 435 rumah sakit siap stroke, sementara saat ini hanya ada 37 rumah sakit siap stroke. Dalam rangka menyambut Hari Stroke Sedunia 29 Oktober 2019, Angels Initiative mendorong rumah sakit di Indonesia untuk menjadi rumah sakit siap stroke dengan menerapkan standardisasi layanan stroke terpadu.

Stroke adalah penyebab kematian paling umum kedua di dunia, dan penyebab disabilitas paling umum ketiga. Prevalensi stroke di Asia Tenggara diperkirakan mencapai 14,6% dan menyumbang sebanyak 4,5 juta dari 30,7 juta kasus stroke di dunia. Di Indonesia, stroke adalah penyebab kematian nomor 1 dan dengan tingkat disabilitas yang tinggi mencapai 65%. Sistem penanganan stroke di negara-negara di kawasan Asia Tenggara berada di berbagai tahapan perkembangan.

“Sebagaimana negara-negara lain di Asia Tenggara, sistem penanganan stroke di Indonesia menghadapi tantangan serupa dalam hal beban stroke yang tinggi dan kesenjangan yang signifikan dalam jumlah pusat penanganan stroke dan rumah sakit siap stroke. Angels Initiative bertujuan untuk meningkatkan jumlah rumah sakit siap stroke sehingga lebih banyak pasien yang memiliki akses, serta mengoptimalkan kualitas penanganan di pusat-pusat penanganan stroke yang baru maupun yang sudah ada,” ujar dr. Temmy Winata, Head of Medical, Representatif Angels Initiative di Indonesia.

Urgensi mengenai hal ini pun disadari oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pada Juli 2019, pemerintah meluncurkan Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Stroke (PNPK Stroke) sebagai referensi standar penanganan stroke di Indonesia. Angels Initiative mendukung peluncuran pedoman nasional tersebut, yang akan digunakan oleh para dokter spesialis saraf dan dokter umum dalam menangani pasien stroke. PNPK Stroke diluncurkan untuk menjadi pedoman komprehensif yang mencakup pengananan stroke pra-rumah sakit, terapi definitif di rumah sakit, dan sistem rujukan antar rumah sakit.

“Berdasarkan WHO Country Risk Profile, stroke masih menjadi penyebab kematian nomor satu pada 2012 dan angka ini belum berubah. Oleh karena itu, kami melihat kebutuhan dan urgensi manajemen penanganan stroke terpadu untuk memprioritaskan penanganan pasien pra-rumah sakit, pemulihan dan rehabilitasi stroke. Namun, selain beban stroke di Indonesia, terdapat tantangan dalam menangani stroke. Hal ini termasuk belum diterapkannya standardisasi manajemen penanganan stroke di semua rumah sakit; kurangnya tim stroke yang terintegrasi; kurangnya peralatan dan fasilitas penanganan stroke; kurangnya jejaring pelayanan stroke yang terintegrasi, termasuk sistem Layanan Darurat Medis (Emergency Medical Service). Inilah alasan kami meluncurkan PNPK Stroke dan dengan kerja sama yang baik dengan berbagai pihak, seperti Angels Initiative, kami berharap dapat mempercepat peningkatan jumlah rumah sakit siap stroke di Indonesia,” ujar dr. Nani H. Widodo, Sp.M, MARS., Kasubdit Pelayanan Medik dan Keperawatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Angels Initiative sejalan dengan Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Stroke (PNPK Stroke) yang belum lama ini disahkan oleh Kementerian Kesehatan RI sebagai referensi standar penanganan stroke di Indonesia. Inisiatif ini secara global didukung oleh European Stroke Organization (ESO) dan World Stroke Organization (WSO). Di Indonesia, Angels Initiative bekerja sama dengan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON), Indonesian Stroke Society (ISS), Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) dan Direktorat Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Saat ini terdapat 120 rumah sakit yang terdaftar dalam program Angels Initiative dengan 37 rumah sakit yang sudah terkualifikasi menjadi rumah sakit siap stroke. Melalui program ini, sekitar 2.000 pasien stroke telah ditangani sejak 2017 di Indonesia. Namun, Indonesia membutuhkan sekitar 435 rumah sakit siap stroke untuk melayani sekitar 269 juta penduduk Indonesia. Salah satu rumah sakit siap stroke di Indonesia adalah RS PON di Jakarta.