Imunoterapi, Inovasi Obat Kanker Paru Bangkitkan Optimisme Pasien

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menyebut jumlah pasien kanker paru meningkat 10 kali lipat dari 15 tahun lalu. Jumlah pasien pengidap kanker paru di Indonesia perlu pengendalian. Saat ini tersedia beberapa pilihan pengobatan kanker paru, di antaranya operasi, kemoterapi, dan yang paling terbaru ialah imunoterapi.

Standar pengobatan kanker di Indonesia telah maju dan setara dengan standar pengobatan internasional. Sejak 2016, dikenal imunoterapi sebagai pengobatan kanker paru. Imunoterapi menjawab tantangan dari metode pengobatan kanker terdahulu, yaitu peningkatan respons terapi dan peningkatan kualitas hidup.

“Terobosan pengobatan kanker paru saat ini dapat memberikan optimisme dan proses pengobatan yang lebih baik, khususnya bagi pasien kanker sehingga bisa memberikan hidup yang berkualitas,” ujar Wakil Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri PDPI dr. Sita Laksmi Andarini, Rabu, (26/8/2020).

Sistem kerja dari pengobatan imunoterapi ini langsung menghambat pertemuan sel imun yang dimanfaatkan oleh sel kanker. Penghambatan ini guna menghindari serangan sel kanker pada sistem imun atau daya tahan tubuh. Sistem kekebalan pada penderita kanker akan jauh lebih aktif untuk melawan sel kanker tersebut.

Berbeda dengan kemoterapi yang berfungsi untuk membunuh sel kanker, imunoterapi meningkatkan respons imunitas antitumor. Kombinasi kemoterapi dan imunoterapi kini jadi salah satu standar baru pengobatan kanker paru.

Imunoterapi diharapkan dapat menekan laju pertumbuhan pasien kanker paru. Jika dikembangkan lebih jauh, imunoterapi juga diharapkan dapat menjadi solusi bagi pengobatan kanker lainnya di Indonesia. Sebab, tiap metode pengobatan memiliki performa dan efek yang berbeda pada setiap pasien kanker.

“Pasien kanker memiliki hak untuk memperoleh akses kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau seperti diatur dalam perundangan. Akses pengobatan terhadap pasien kanker paru akan mempengaruhi kondisi mereka. Penting adanya kolaborasi dari semua pihak baik pemerintah, sektor swasta, maupun masyarakat,” kata Aryanthi Baramuli Putri, Ketua Umum Cancer Information and Support Center (CISC).

Inovasi pengobatan kanker paru yang didukung oleh semua pihak dapat menciptakan layanan kesehatan terbaik bagi para pasien. Kanker diharapkan bukan lagi sebagai ‘vonis kematian’ bagi pasien kanker di Indonesia. Akses pengobatan baru sangat dibutuhkan guna memberikan harapan hidup yang lebih baik. (ARF)