• A PHP Error was encountered

    Severity: Notice

    Message: Undefined variable: rss_hide

    Filename: partials/_social_media_links.php

    Line Number: 45

    Backtrace:

    File: /home/isnaenirikki/public_html/application/views/partials/_social_media_links.php
    Line: 45
    Function: _error_handler

    File: /home/isnaenirikki/public_html/application/views/partials/_header.php
    Line: 770
    Function: view

    File: /home/isnaenirikki/public_html/application/controllers/Home.php
    Line: 164
    Function: view

    File: /home/isnaenirikki/public_html/index.php
    Line: 315
    Function: require_once

Gelapnya Akses Hiburan Bagi Kaum Difabel dalam Gemeralap Era Globalisasi

Difabel merupakan kepanjangan dari frasa different ability people (masyarakat berdaya beda), difabel adalah orang-orang yang menjalankan aktivitas hidup dengan kondisi fisik dan atau mental yang berbeda dengan orang kebanyakan. Kondisi ini bisa merupakan bawaan sejak lahir ataupun muncul saat dewasa, seperti akibat dari penyakit, malnutrisi, kecelakaan, penganiayaan, atau sebab-sebab lain sehingga menyebabkan cacat fisik dan atau mental. Istilah difabel resmi digunakan untuk menggantikan istilah cacat (disable) pada tahun 1998.

Data statistik yang dihimpun oleh WHO atau Organisasi Kesehatan Dunia mempresentasikan bahwa jumlah penyandang disabilitas berkisar antara 15% dari total populasi penduduk dunia. Di Indonesia, penyandang disabilitas diperkirakan mencapai 36. 150. 000 orang atau sekitar 15% dari total penduduk Indonesia tahun 2011 yang penduduknya mencapai 241 juta jiwa. Menurut data PUSDATIN dari Kementerian Sosial, pada 2010, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia adalah: 11,580,117 orang dengan di antaranya 3,474,035 (penyandang disabiltais penglihatan), 3,010,830 (penyandang disabilitas fisik), 2,547,626 (penyandang disabilitas pendengaran), 1,389,614 (penyandang disabiltias mental) dan 1,158,012 (penyandang disabilitas kronis).

Bagai punguk merindukan bulan, fakta yang terpapar diatas menunjukan jumlah difabel yang cukup banyak namun tidak diimbangi dengan aksebilitas yang baik sehingga menimbulkan diskriminasi. Indonesia masih tertinggal dalam layanan dan pemberian hak bagi para difabel. Bahkan tergolong paling buruk di antara negara-negara ASEAN (Radar Jogja Online, 2013).  Salah satu akses yang masih sulit dirasakan oleh difabel yaitu akses hiburan seperti menonton di bioskop padahal angka 36. 150 juta jiwa menawarkan keuntungan finansial bagi penyedia layanan . Pradigma yang terus bertumbuh di masyarakat memvonis difabel hanya sebagai beban negara sehingga jika hal ini terus dibiarkan tidak sesuai dengan tujuan Bangsa Indonesia menyejahterakan kehidupan sosial. Hasil wawancara penulis dengan salah satu petugas bioskop di Mataram, NTB, layanan khusus yang diberikan untuk difabel yaitu dibantu masuk  kedalam dengan syarat masuk lebih cepat dibandingkan dengan penonton lainnya, dibantu untuk duduk dengan cara digendong namun jumlah penonton difabel sangat jarang sekali. Bukan hanya itu difabel tunarungu juga terbatas hanya dapat mengkonsumsi film luar negeri yang terdapat subtitle sedangkan produk anak bangsa tak untuk dirasakan. Akses berupa lift maupun equalator tidak semua mall menyediakan  fasilitas tersebut. Padahal siapapun berhak mendapatkan hiburan.

Salah satu inovasi yang kekinian dengan adanya Bioskop Bisik gagasan Yayasan Mitra Netra. Bioskop ini menyediakan pemutaran film Indonesia dengan bantuan relawan untuk membisikkan isi dari film lalu yang tak kalah menyenangkan bioskop ini juga menyediakan subtitle untuk penyandang tunarunggu dengan ukuran teks yang lebih besar sehingga dapat dilihat oleh semua penikmat film.  Tempat menonton film pun dibuat sesuai dengan kebutuhan disabilitas fisik sehingga tidak ada adegan memindahakan kursi roda, digendondong, disapih, difabel mampu mandiri. Jauh sebelum Bioskop Bisik Indonesia, ada program Unmukt di India yang digagas oleh organisasi Essar Foundation dan  Saksham Trust di tahun 2013. India merupakan salah satu negara dengan populasi tunanetra terbesar. Diperkirakan ada sekitar 14 juta orang buta dan 28 juta orang dengan penglihatan rendah ada di negara ini.

 

 

Sumber: Nadia Wasta Utami. 2015. Channel Vol.3, No. 2, Hal. 41-49. Gelap dalam Gemerlap: Gelapnya Akses Informasi Bagi Difabel dalam Gemerlap Era Digitalisasi. Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia:.

Chowdhury, Oli M. Abdullah, “Children with Different Abilities”, The Daily Star, 25 Juli 2004. Diunduh dari http://www.thedailystar.net/law/2004/07/04/human.htm

http://www. radarjogja.co.id/terbatas-akses-difabel- diunduh pada tanggal 4 Januari 2019 pukul 14.40

Sumber Gambar : Wikipedia

Kamu suka dengan konten akutahu.com? Berikan dua jempol sebagai tanda kamu menyukai konten ini.

Beritahu cuan reaksi kamu setelah membaca konten ini.

like
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0