Cerebral Palsy dan Cara Pencegahannya

Cerebral palsy adalah kondisi neurologis yang disebabkan oleh cedera pada otak. Hal ini terjadi dikarenakan perkembangan otak yang belum sempurna.

Biasanya, perkembangan otak berlangsung pada saat usia memasuki dua tahun. Dari 70 sampai 80% kasus cerebral palsy yang terjadi selama masa prenatal, sebagian besar penyebabnya tidak diketahui.

Lebih lanjut, Cerebral palsy sangat beresiko tinggi terjadi pada bayi premature (Jan MMS, 2006). Penyebabnya dapat diklasifikasikan berdasarkan waktu dari gangguan selama masa prenatal, perinatal, dan postnatal.

Selain itu, insiden cerebral palsy yang terjadi akhir-akhir ini sangat bervariasi dan berbeda berdasarkan kriteria, waktu, dan hasil akhir dari studi komunitas.

Ciri-ciri klinis pasien dengan kasus cerebral palsy terdapat gangguan pada motorik kontrol, spastisitas, kelainan tonus otot, dan postur yang buruk, serta disertai dengan keterbelakangan mental.

Normal movement approach merupakan pendekatan restoratif/rehabilitatif yang paling umum digunakan pada neurorehabilitasi fisik di Inggris. Pendekatan ini juga dikenal dengan pendekatan Bobath atau NDT yang awalnya ditemukan oleh Berta & Karel Bobath di tahun 1970. Konsep Bobath berkembang dengan menggabungkan ilmu pengetahuan saat ini dengan teori sistem motor kontrol, pembelajaran gerak, neurosciense, neuroplastisitas dan biomekanik. (International Bobath Instruktur Training Association (IBITA), 2008).

Maka daripada itu, pasien dengan cerebral palsy tentu dapat diterapi dengan menggunakan teknik Bobath. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa terlalu banyak usaha/energi dan penggunaan berlebihan pada sisi yang sehat (kompensasi) sehingga menyebabkan munculnya tonus dan gerakan yang abnormal pada sisi yang mengalami gangguan. (Lennon, 2001 : hal 925). Analisis tentang gerak normal (normal movement) menjadi dasar utama penerapan aplikasi metode ini. Dengan pemahaman gerak normal, maka setiap fisioterapis akan mampu melakukan identifikasi problematik gerak  kepada setiap pasien atas penyimpangan gerak akibat gangguan system saraf pusat.

Teknik Bobath memiliki 4 prinsip utama dalam penanganannya. Prinsip pertama adalah inhibisi yakni menghambat pola abnormal atau sikap tubuh abnormal. Prinsip kedua adalah fasilitasi yakni upaya memberikan kemudahan dalam memfasilitasi posisi dan gerakan yang lebih normal. Prinsip ketiga adalah stimulasi yaitu merangsang daerah tertentu untuk mendapatkan reaksi atau respon dari pasien. Prinsip yang keempat adalah Key Point of Control (KPOC) dimana seorang fisioterapis perlu mengetahui daerah-daerah yang paling efektif untuk dilakukan tiga prinsip sebelumnya yakni inhibisi, fasilitasi dan stimulasi seperti daerah-daerah yang dekat dengan sumbu tubuh (proximal) antara lain leher, bahu, panggul.

Pemilihan daerah yang telah disebutkan tadi dikarenakan prinsip neuroscience (perkembangan saraf) yang bersifat cephalo-caudal yaitu daerah yang dekat dengan kepala (otak) yang terlebih dahulu diterapi. Sehingga untuk pasien dengan cerebral palsy, jika diterapi dengan menggunakan teknik Bobath selalu treatment awalnya adalah melihat dan memperbaiki kontrol lehernya. Setelah kontrol leher dianggap baik, barulah daerah yang lain dapat diterapi. Semakin sering pasien cerebral palsy melakukan fisioterapi, maka semakin baik pula prognosis yang diperoleh.(AF/DP)

 

Sumber:

Jan MMS, 2006. Cerebral Palsy:
Comperhensive Review and Update.Ann Saudi Med;26(2):123-132.

Irfan,Muhammad.2012. Aplikasi Terapi Latihan Metode Bobath, Jurnal Fisioterapi Volume 12 Nomor 1

Buku bahan ajar cerebral palsy

Foto: Wikipedia